Sepertinya, baru kemarin malam minggu berlalu, kini sudah malam minggu lagi. Bagi sebagian orang, malam minggu identik dengan malamnya muda-mudi. Malam pacaran, malam di mana tuturan "aku mencintai kamu" banyak menghiasi topik pembicaraan muda-mudi kasmaran, begitu kira-kira. Namun bagi Mikus yang sejak lama menjomlo, ia lebih banyak menghabiskan waktu sambil ber-facebook ria dengan mode gratis di teras kamar kos. Bagi anak muda penggemar tim sepak bola Barcelona ini, melewatkan 'horornya' malam minggu dengan berpikir kritis meski 'nyeleneh' lebih mengasyikan daripada berpacaran. Ia tertarik untuk membicarakan, "aku mencintai kamu" atau "kamulah yang aku cinta".
Apa yang dibicarakan Mikus itu merupakan fenomena bahasa. Bahasa dan kebermaknaannya selalu menarik dikaji, memang. Urutan kata dalam sebuah konstruksi sintaksis adalah salah satu hal menarik dikaji, sebab itu adalah salah satu aspek penentu makna kalimat. Yang dimaksud dengan urutan kata adalah letak atau posisi kata yang satu dengan kata yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis. Dalam bahasa Indonesia, urutan kata ini tampaknya sangat penting.
Perbedaan urutan kata berimplikasi pada perbedaan makna. Dengan lain perkataan, dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang apabila diubah urutannya, aka berubah pula maknanya. Misalnya, konstruksi sintaksis pada frasa "tabungan berhadiah" dan "berhadiah tabungan". Gabungan kata "tabungan berhadiah" bermakna 'tabungan yang menyediakan hadiah'. Sementara itu, bentuk gabungan kata "berhadiah tabungan" memiliki makna 'memunyai hadiah berupa tabungan'. Contoh lain, urutan konstruksi "lagi makan" dan "makan lagi". Konstruksi pertama menyatakan makna 'proses makannya sedang berlangsung'; sedangkan konstruksi yang disebutkan terakhir menyatakan 'proses makannya berulang kali'.
Urutan kata dalam suatu konstruksi sintaksis juga menentukan fokus atau bobot pemaknaan. Kata yang diletakkan mendahului kata lain menjadi fokus atau bobot pemaknaan yang ingin disampaikan. Fenomena bahasa ini kerap kali dijumpai, bahkan digunakan dalam praktik berkomunikasi, hanya saja implikasi sosial di balik praktik seperti itu sering tidak disadadari. Sebagai contoh, konstruksi kalimat "Saya pergi ke Ruteng kemarin". Dalam konstruksi kalimat itu, bobot terbesar dan menjadi fokus penekanan pembicaraan adalah "saya". Jika fokus penekanan pembicaraannya adalah tujuan, maka frasa preposisional "ke Ruteng" sebagai keterangan tempat akan menduduki fungsi subjek (saya). Maksud tersebut kemudian mewujud pada konstruksi "Ke Ruteng saya akan pergi". Begitu pula jika fokus penekanannya ihwal 'waktu', maka konstruksi urutan kata dalam kalimat tersebut pun berubah. "Kemarin saya pergi ke Ruteng", misalnya. Dalam konstruksi yang seperti itu, adverbia 'kemarin' yang berperan sebagai keterangan waktu menduduki fungsi subjek.
Urutan kata tidak saja menentukan perbedaan makna dan titik fokus penekanan dalam suatu proposisi. Urutan tersebut, juga menentukan kemutlakan dari sesuatu yang dibicarakan dalam kalimat tersebut. Dalam hal ini urutan kata dalam sebuah konstruksi sintaksis, berimplikasi pada dijadikannya hal tertentu sebagai prioritas dari sebuah kalimat. Saat Anda mengatakan "Saya butuh uang nih" pada rekan atau saudara, misalnya. Dalam konstruksi kalimat itu, yang terpenting adalah saya (Anda), bukan uang. Mungkin saja, respon yang muncul adalah Anda diberi nasi bungkus, dan bukan uang oleh rekan atau keluarga sebagaimana yang diminta. Siapa tahu, Anda butuh uang untuk membeli makanan (nasi bungkus).
Lain halnya, jika yang diprioritaskan adalah uang. Urutan kalimat tersebut akan dikonstruksi menjadi, "Uanglah yang saya butuhkan". Dalam konstruksi yang seperti itu, 'uang' menjadi hal yang diprioritaskan, bukan nasi bungkus atau barang-barang lainnya.
Selain dari berbagai hal tersebut di atas, urutan kata dalam suatu konstruksi kalimat berimplikasi pada seberapa egois seseorang. Ketika pasangan Anda mengatakan "Aku cinta kamu", misalnya. Fokus penekanan dalam urutan konstruksi kalimat seperti itu adalah "aku", bukan "kamu". Saya ingin kamu tetap mencintai saya, karena itu saya mencintai kamu. Saya tersakiti jika kamu tidak mencintai saya. Karen itu saya menjaga agar kamu tetap mencintai saya dengan cara saya mencintai kamu. Dalam konstruksi seperti itu, ada kesan egois dan inklusifitas yang kerap kali tak disadari kemunculannya.
Berbeda halnya jika kalimat tersebut disampaikan dengan pola konstruksi berbeda. Pronomina persona "kamu" yang sebelumnya menduduki fungsi objek, diletakkan pertama, sehingga menjadi "Kamulah yang saya cintai". Dalam konstruksi kalimat yang seperti itu, kesan egois dan inklusifitas tidak lagi muncul. Si "aku" tetap mencintai si "kamu", meski tak begitu sebaliknya. Pronomina persona "kamu" menjadi prioritas utama dari aktivitas mencintai yang dilakukan si "Aku". Si "Aku" bahkan menggeser dirinya dari posisi awal dalam susunan kalimat tersebut, untuk memberikan posisi terdepan pada "si kamu".
Bahasa dalam perspektif Pierre Bourdieu bukan semata alat komunikasi. Baginya, bahasa bukanlah entitas netral, tanpa tendensi kepentingan (kekuasaan). Tesis Pierre Bourdieu menyata dalam kalimat "aku mencintai kamu". Titik fokus kepentingan ada pada si "aku".
"Bagaimana dengan pihak korporasi tambang yang bilang kami mencintai warga Luwuk dan Lingko Lolok, makanya kami dirikan tambang di sana?" celetuk Mikus pada Lolus.
'Selekedep, ew!"
![]() |
| "Aku Cinta Kamu vs Kamu Kucintai" |
Perbedaan urutan kata berimplikasi pada perbedaan makna. Dengan lain perkataan, dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang apabila diubah urutannya, aka berubah pula maknanya. Misalnya, konstruksi sintaksis pada frasa "tabungan berhadiah" dan "berhadiah tabungan". Gabungan kata "tabungan berhadiah" bermakna 'tabungan yang menyediakan hadiah'. Sementara itu, bentuk gabungan kata "berhadiah tabungan" memiliki makna 'memunyai hadiah berupa tabungan'. Contoh lain, urutan konstruksi "lagi makan" dan "makan lagi". Konstruksi pertama menyatakan makna 'proses makannya sedang berlangsung'; sedangkan konstruksi yang disebutkan terakhir menyatakan 'proses makannya berulang kali'.
Urutan kata dalam suatu konstruksi sintaksis juga menentukan fokus atau bobot pemaknaan. Kata yang diletakkan mendahului kata lain menjadi fokus atau bobot pemaknaan yang ingin disampaikan. Fenomena bahasa ini kerap kali dijumpai, bahkan digunakan dalam praktik berkomunikasi, hanya saja implikasi sosial di balik praktik seperti itu sering tidak disadadari. Sebagai contoh, konstruksi kalimat "Saya pergi ke Ruteng kemarin". Dalam konstruksi kalimat itu, bobot terbesar dan menjadi fokus penekanan pembicaraan adalah "saya". Jika fokus penekanan pembicaraannya adalah tujuan, maka frasa preposisional "ke Ruteng" sebagai keterangan tempat akan menduduki fungsi subjek (saya). Maksud tersebut kemudian mewujud pada konstruksi "Ke Ruteng saya akan pergi". Begitu pula jika fokus penekanannya ihwal 'waktu', maka konstruksi urutan kata dalam kalimat tersebut pun berubah. "Kemarin saya pergi ke Ruteng", misalnya. Dalam konstruksi yang seperti itu, adverbia 'kemarin' yang berperan sebagai keterangan waktu menduduki fungsi subjek.
Urutan kata tidak saja menentukan perbedaan makna dan titik fokus penekanan dalam suatu proposisi. Urutan tersebut, juga menentukan kemutlakan dari sesuatu yang dibicarakan dalam kalimat tersebut. Dalam hal ini urutan kata dalam sebuah konstruksi sintaksis, berimplikasi pada dijadikannya hal tertentu sebagai prioritas dari sebuah kalimat. Saat Anda mengatakan "Saya butuh uang nih" pada rekan atau saudara, misalnya. Dalam konstruksi kalimat itu, yang terpenting adalah saya (Anda), bukan uang. Mungkin saja, respon yang muncul adalah Anda diberi nasi bungkus, dan bukan uang oleh rekan atau keluarga sebagaimana yang diminta. Siapa tahu, Anda butuh uang untuk membeli makanan (nasi bungkus).
Lain halnya, jika yang diprioritaskan adalah uang. Urutan kalimat tersebut akan dikonstruksi menjadi, "Uanglah yang saya butuhkan". Dalam konstruksi yang seperti itu, 'uang' menjadi hal yang diprioritaskan, bukan nasi bungkus atau barang-barang lainnya.
Selain dari berbagai hal tersebut di atas, urutan kata dalam suatu konstruksi kalimat berimplikasi pada seberapa egois seseorang. Ketika pasangan Anda mengatakan "Aku cinta kamu", misalnya. Fokus penekanan dalam urutan konstruksi kalimat seperti itu adalah "aku", bukan "kamu". Saya ingin kamu tetap mencintai saya, karena itu saya mencintai kamu. Saya tersakiti jika kamu tidak mencintai saya. Karen itu saya menjaga agar kamu tetap mencintai saya dengan cara saya mencintai kamu. Dalam konstruksi seperti itu, ada kesan egois dan inklusifitas yang kerap kali tak disadari kemunculannya.
Berbeda halnya jika kalimat tersebut disampaikan dengan pola konstruksi berbeda. Pronomina persona "kamu" yang sebelumnya menduduki fungsi objek, diletakkan pertama, sehingga menjadi "Kamulah yang saya cintai". Dalam konstruksi kalimat yang seperti itu, kesan egois dan inklusifitas tidak lagi muncul. Si "aku" tetap mencintai si "kamu", meski tak begitu sebaliknya. Pronomina persona "kamu" menjadi prioritas utama dari aktivitas mencintai yang dilakukan si "Aku". Si "Aku" bahkan menggeser dirinya dari posisi awal dalam susunan kalimat tersebut, untuk memberikan posisi terdepan pada "si kamu".
Bahasa dalam perspektif Pierre Bourdieu bukan semata alat komunikasi. Baginya, bahasa bukanlah entitas netral, tanpa tendensi kepentingan (kekuasaan). Tesis Pierre Bourdieu menyata dalam kalimat "aku mencintai kamu". Titik fokus kepentingan ada pada si "aku".
☕☕☕
'Selekedep, ew!"
☕☕☕
#AmedIbell







