This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 17 Agustus 2020

CONCORDIA CIVIUM MURUS URBIUM

"Concordia Civium Murus Urbium" (Persatuan dan kesatuan warga adalah benteng pertahanan terkuat suatu bangsa dan negara).

Begitu semboyan bangsa Romawi kuno. Sejak  puluhan abad yang silam, salah satu bangsa dengan peradaban besar ini telah menyadari arti signifikan persatuan dan kesatuan warga negara.

Melalui adagium "Concordia Civium Murus Urbium" itu, bangsa Romawi kuno mencoba membangun sebuah analogi, dengan mengambil tembok benteng stronghold pada masa imperium Roma, sebagai elemen semiotik persatuan dan kesatuan.

Jika persatuan itu dianalogikan dengan tembok benteng, maka kualitas relasi kebangsaan antarindividu maupun antarkelompok dan golongan adalah  batu batanya.



"Concordia Civium Murus Urbium"


Sulit membanyangkan, bagaimana sebuah benteng stronghold bisa berdiri kokoh nan gagah, jika di antara batu batanya enggan untuk saling berdekatan agar dapat saling memberikan kekuatan pada konstruksi benteng. Batu yang satu merasa lebih kokoh dari batu yang lain, batu yang satu merasa tak cocok jika didekatkan dengan batu yang lain.

Jika demikian adanya, maka musuh tak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga dan perlengkapan amunisi persenjataan untuk merobohkan benteng tersebut, sebab dengan sendirinya batu-batu benteng tesebut akan memerangi sesamanya.

Belum terlambat bagi kita untuk menyadari arti penting adagium Romawi kuno tersebut. Tetapi, tak berarti kita punya waktu cukup banyak untuk bersantai dan sejenak mengabaikan implikasi mengerikan yang bisa saja muncul dengan mengabaikan adagium tersebut. Lebih-lebih di tengah situasi darurat pandemi covid-19 ini.

Peringatan proklamasi ke-75 ini, bisa jadi momentum yang baik untuk mengisi kemerdekaan bangsa dengan semangat persatuan tanpa sekat perbedaan.

Kita memang beda. Namun, kita sama dalam mengisi kemerdekaan dengan menjaga persatuan dalam membangun bangsa dan negara.

Dirgahayu negeriku. Semoga tetap berjaya dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.



#AmedIbell