This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 31 Mei 2020

OM TOTE DAN DIALEKTIKA 'RUHA'

Aristoteles adalah salah seorang filosof Yunani klasik, yang namanya hingga kini dikenal banyak orang.  Bahkan orang yang tahu namanya,  lebih banyak dari teman pria di FB nona-nona cantik.  Kalau status Facebook seorang cewek 'di-like' oleh 1000 orang dari 999 teman,  maka orang yang mengenal nama Aristoteles, bahkan lebih dari itu.

Ah,  mungkin itu perbandingan yang kurang aple to aple.  Tapi,  sudahlah!  Ini efek kopi saya yang sudah mulai habis.


Ganda Ruha
'Nyeleneh' kritis



Semasa hidupnya, sang filosof kondang pernah mempertanyakan, mengapa bentuk telur itu bulat oval dengan ujung yang elips.  Pertanyaan tersebut terus mengusik rasa 'kekepoannya'. Namun sayang,  hingga beliau tutup usia,  pertanyaan tersebut masih belum terjawab.

Om Tote (Aristoteles), sebut saja begitu pernah mengungkapkan asumsinya ihwal bentuk telur. Jika anak burung berkelamin betina, maka ujung telur akan lebih tajam. Namun, asumsi Om Tote itu tak pernah menyelesaikan pertanyaan mengapa telur berbentuk seperti itu.

Penjelasan tradisional pun punya pemerian ihwal pertanyaan Om Tote itu. Penjelasan tradisional menyatakan, bahwa bentuk telur yang panjang dan oval berfungsi agar telur tidak terguling terlalu jauh dari sarangnya, atau memudahkan mencengkeram saat keluar dari kloaka burung.

Pertanyaan Om Tote itu, hingga kini masih dikaji secara ilmiah. Teranyar, penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari tujuh universitas internasional, termasuk Princeton University, Nanyang Technology University, dan University of Haifa.

Pertanyaan sederhana yang cukup menggelitik bagi Aristoteles dan juga para ilmuwan ini, akhirnya terjawab dalam penelitian itu. Dalam studi yang dipublikasikan melalui jurnal "Science", tim peneliti internasional mengungkapkan alasan mengapa telur berbentuk oval dan meruncing. Itu diungkapkan setelah menganalisisa puluhan ribu bentuk telur yang mewakilli beragam burung. Mereka menggunakan database dari 49.175 foto telur yang mencakup 1400 spesies burung hidup dan yang sudah punah.

Berbeda dengan hipotesis klasik, kajian tersebut menemukan bahwa kemampuan terbang bisa mempengaruhi bentuk telur burung. Burung yang punya kemampuan terbang baik, cenderung punya bentuk telur asimetris atau lebih elips.

Pertanyaan Om Tote tersebut di atas, tampak sangat sederhana. Sesederhana para pria menyentuh tombol like di setiap status facebook para wanita cantik. Pertanyaan sederhana yang dilontarkan Aristoteles tersebut,  membuat orang melabelinya sebagai 'orang yang kurang kerjaan'.

Pertanyaan itu memang sederhana, datang dari fakta keseharian yang sederhana. Namun, pertanyaan itu tidak dapat dilontarkan kepada orang yang 'sederhana'.

Apa sebenarnya yang dapat dipelajari dari pertanyan sederhana Arisoteles itu?  Semua ilmu pengetahuan dan teknologi manusia saat ini merupakan manifestasi proses evolusi dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu. 

Om Tote dengan pertanyaan 'nyeleneh' itu, telah menggerakan semangat saintifik dan menyalakan pikiran kritis. Jawaban atas pertanyaan itu menuntut elaborasi saintifik dan berbagai studi pustaka terkait.

Aristoteles sempat dianggap gila, karena melontarkan pertanyaan bentuk telur tersebut. Namun, jika mau jujur pertanyaan itu merupakan semiotika kritik tajam yang relevan dengan konteks dunia pendidikan, terutama bagi para guru di era kita, hari ini. Tak sedikit guru-guru kita hari ini, yang masih membuat soal ujian dengan redaksi yang membutuhkan jawaban yang cenderung leterlek. Misalnya, "alat pernafasan ikan adalah?".

Aristoteles dan pertanyaan 'gila' ihwal bentu telur, hendak menyentil guru-guru kita, agar hijrah dari level hafalan menuju pertanyaan yang merangsang nalar kritis anak. Dengan begitu, diharapkan akan muncul pertanyaan 'nyeleneh' tapi kritis, misalnya "mengapa ikan tidak bisa panjat pohon seperti monyet". Pertanyaan ini tentu akan menggembleng anak-anak pada semangat literasi. Anak-anak akan membedah referensi ihwal teori-teori evolusi melalui telaah pustaka untuk menjawabnya.

Hal lain yang dapat kita pelajari dari pertanyaan 'nyeleneh' ala Om Tote itu adalah jangan menyepelehkan hal-hal sederhana di sekitar kita.  Seperti telur Anda, misalnya. Eits, jangan secara sederhana berpikir 'ngeres'!

Orang hebat seperti Aristoteles,  melihat segala sesuatu yang sederhana, dengan cara berpikir yang luar biasa. Sementara orang biasa,  melihat segala sesuatu dengan cara berpikir yang 'sederhana'. 

Orang hebat, dapat membuat hal sepele menjadi luar biasa. Sedangkan orang 'sederhana', membuat sesuatu yang luar biasa menjadi hal sepele. Itu yang mungkin dapat kita pelajari dari rasa 'Kepo' luar biasa Om Tote (Aristoteles) tentang bentuk telur, yang tak jelas itu punya siapa. 

Anda bisa menambahkan makna lain yang dapat dipelajari dari pertanyaan 'konyol' Om Tote itu. Namun, satu hal penting yang perlu diingat, jangan tanyakan itu pada "telur yang defisit nalar". Sebab, dengan mudah dan cepat ia akan berpikir Anda gila.


☕☕☕


(Ame'd Ibell)

Senin, 25 Mei 2020

'TATAPAN MEDUSA' DALAM PERMAINAN ANAK: SIAPA MAU HELP?

Manusia dan kebudayaan mengalami perubahan sesuai tahapan-tahapan tertentu, dari bentuk yang sederhana menuju bentuk yang lebih kompleks. Begitu kata Herbert Spencer dalam "Unlinear Theories of Evolution".

Pernyataan Herbert Spencer tersebut, dapat diamati pada eksistensi permainan tradisional. Dulu, permainan tradisional ini dijadikan permainan sehari-hari. Namun, kini tidak lagi. Anak-anak zaman ini lebih mengenal permain modern. Permainan Tradisional semakin hari semakin hilang dilindas dominasi perkembangan zaman.

Permainan tradisional
Permainan anak mo punah, sapa mo help?

Jean Piaget, bapak pembelajaran kognitivisme menyebutkan, bahwa permainan membentuk konsep keterampilan dan membentuk kognisi anak, serta mengembangkan kognisi tersebut. Relevan dengan itu, Mayke (2001:7-9) meyatakan, bahwa permainan tradisional dapat mengembangkan aspek motorik anak-anak, sehingga pertumbuhan fisik pun menjadi maksimal.

Permainan tradisional, sesungguhnya menyimpan keunikan, kesenian dan manfaat yang lebih besar, bila dikomparasikan secara head-tohead dengan permainan modern ala generasi 'android-console'. Manfaat tersebut seperti, kerja sama tim, olahraga, dan terkadang juga membantu meningkatkan daya otak (kognisi). Ketiga manfaat tersebut, adalah sebagai berikut.

Pertama, kerja sama tim (timework). Ini merupakan aspek sosial dari permainan tradisional. Generasi 'sontak' tentu tahu, bahwa semua jenis permainan ini tidak dapat dimainkan sendiri tanpa teman lain yang biasa menjadi anggota bermain. Karenanya, permainan ini, hampir tak memberikan celah bagi tumbuhnya individualisme.

Kedua, aspek manfaat sanitas. Disadari atau tidak, umumnya, permainan tradisional merupakan media olahraga fisik dan mental. Permainan ini cenderung dinamis dan sangat mengandalkan anggota gerak tubuh (berlari, jongkok, lompat, tiarap, menarik, mendorong, dll). Sportivitas sosial, dibentuk di sini. Kelompok yang kalah mengakui kekalahannya, dan kelompok pemenang tidak jumawa berlebihan demi menjaga iklim persahabatan merupakan wujud olahraga mental.

Ketiga, aspek edukatif dari manfaat permainan tradisional. Kemenangan kolektif adalah tujuan akhir dari permaian tradisional yang dimainkan. Kemenangan merupakan sebuah prestise dalam lingkungan sosial anak-anak tersebut. Untuk memenangkan permainan, kelompok bermain tertentu harus memiliki strategi bermain yang apik dan sistematis. Untuk itu, penyusunan strategi biasanya melibatkan seluruh anggota dalam kelompok bermain tersebut. Dengan begitu, kognisi dan mental demokrasi anak mulai terbentuk.

Berbeda dengan permainan 'kids jaman now' yang cenderung dilakukan dalam posisi duduk diam memainkan permainan dalam layar monitor dan sebagainya. Permainan yang cenderung statis membuat organ gerak anggota tubuh mereka cenderung tidak dimaksimalkan. Singkatnya, permainan ini membunuh 'sense of sport' anak-anak.

Suka atau tidak, permainan modern merupakan  lahan gambut bagi tumbuh kembangnya mentalitas individualis dan membentuk sikap apatisme dalam diri anak-anak yang bangga disebut 'kids zaman now'. Tidak ada pembelajaran sosial di sana, sebab ia berhadapan dengan mesin.

Tidak hanya itu, permainan modern juga merupakan 'tatapan medusa' bagi daya imajinasi anak-anak. Permaianan digital membuat imajinasi anak-anak seolah membatu.

Tidak demikian dengan permainan tradisional. Permainan ini memberikan ruang lebih bagi tumbuh kembangnya imajinasi dan fantasi anak. Beberapa permainan tradisional yang sering kami mainkan semasa kanak-kanak membantu kami berimajinasi dan berfantasi.

Bermain ban motor bekas, misalnya. Dengan permainan ini, anak-anak berimajinasi menjadi pembalap idolanya, sebut saja Valentino Rossi yang sedang berada dalam sirkuit dengan tekanan kompetisi. Kid Zaman Now tentu tidak akan dapat berimajinasi, sebab 'dibantu’ visualisasi game digital yang realistis dan konkret.

Ada juga permainan 'sontak'. Di daerah Manggarai lainnya, permainan ini disebut 'sunta'. Sontak adalah sejenis mainan senapan yang mengunakan buluh (bambu kecil) dan menggunakan kertas sebagai pelurunya. Seperti halnya senapan, sontak juga dapat mengeluarkan letupan suara tembakan. Dengan permaianan ini, kami berimajinasi menjadi sniper handal. Persis yang ada dalam game console Sniper Elite atau Ghost Warior.

Harus diakui, bahwa permainan tradisional mampu memberikan pengaruh yang positif bagi kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, agaknya tidak berlebihan jika dikatakan, adagium Latin "Mensana In Corpore Sano" lebih relevan dengan permainan tradisional.

                          ☕☕☕

Ngeng.. ngeng.. Hongkiong... sontak son!!!

Salam kopi mok ringking


#Ame'dIbell

Minggu, 24 Mei 2020

APA KABAR-MU HARI INI, TUHAN?


Hari ini adalah Minggu kesekian kalinya, umat beribadah dari rumah. Begitu pula dua sahabat, Mikus dan Lolus, anak indekos yang tinggal sekamar. Selesai berdoa, keduanya 'ngopi' pagi sambil berbincang-bincang.

                                      ☕☕☕

"Mekas, apa tombo dite agu Mori du ngaji bao ?"  tanya Mikus pada Lolus, penuh 'kepo' (apa yang tadi kamu minta pada Tuhan saat berdoa?)


"Ta bro, toe tegi bana ew. Co'o tegi gelang koe polin wabah corona, ho'o ta de". Jawab Lolus. (saya minta Tuhan supaya wabah corona segera berlalu, teman).

Lolus pun balik bertanya pada Mikus, ihwal apa yang dikatakannya dalam doa. Ia ingin tahu, apa yang dibicarakan sahabatnya itu dalam doa pada Tuhan.

"Tuhan, Apa kabar-Mu hari ini?" jawab Mikus, singkat, sembari menyalakan rokok.

Mendengar jawaban sahabatnya itu, Lolus tampak bingung. Itu tampak jelas dari kerutan dahinya yang persis bedeng sayur.

Melihat ekspresi kebingungan sahabatnya itu, Mikus pun menerangkan maksud jawabannya.

"Kawan, dalam doa tadi saya tidak minta apa-apa. Saya hanya menanyakan bagaimana kabar Tuhan hari ini."

Dari dahi turun ke mata. Ekspresi Lolus kini menampilkan pupil mata selebar ember mateks.

"Doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Namun, kita cenderung mereduksi makna doa, sekedar sebagai komunikasi pragmatis.  Acap kali yang muncul dalam doa-doa kita adalah draft panjang permintaan yang harus dikabulkan Tuhan. Hampir tak ada di antara kita umat beriman yang berbicara pada Tuhan, tanpa tendensi pragmatis. Sekedar tanya kabar Tuhan, misalnya." Mikus menambahkan penjelasannya.

Mendengar penjelasan itu, rahang Lolus sontak terbuka selebar bahu.

"Mekas, kalau doa bisa dikomunikasikan melalui platform WhatsApp, kita bisa mengawali pembicaraan dengan-Nya pakai "P" ka?" Tanya Lolus.

Mendengar pertanyaan itu, Mikus bergumam dalam hati, "Kalau su begini siapa mo help!"



                        ☕🇲🇨☕


#AmedIbell

Sabtu, 23 Mei 2020

TUKANG GOSIP: DEMAGOGNYA PARA DEMAGOG


Setiap narasi umumnya dibangun di atas fundasi dikotomi polaritas. Ada semacam kutub positif dan kutub negatif yang dipakai sebagai frame dasar dari sebuah konstruksi narasi.

Begitu pula pola narasi yang dibangun dalam komunikasi sosial yang 'defisit nalar', bernama gosip. Dalam dunia gosip, kelompok tertentu akan ditampilkan dengan frame negatif. Sementara penggosip dan kroni-kroninya, akan ditampilkan heroik melalui frame posiitf.

Tukang Gosip: Poti Kose
Gosip!

Dalam praktik dunia gosip, ada kecenderungan 8 dari 10 orang akan menempatkan Anda sebagai pengisi karakter 'antagonis bangsat' dalam setiap narasinya. Sementara itu, slot heroik akan diisi oleh pemilik narasi (penggosip). Diskursus inilah yang dalam terminologi kita disebut, "bumbu joak".

Mudah saja melihat bagaimana "bumbu joak" ini bekerja dalam skema dikotomi naratif. Anda hanya perlu memerhatikan siapa saja yang ada dalam kutub 'oknum heroik' dan siapa saja yang ada dalam kutub 'antagonis brengsek'. 

Mikus sahabat saya, memaralelkan gosip dengan istilah 'demagogi' dan para penggosip dengan istilah 'demagog'. Kedua istilah ini sering dipakai dalam konteks wacana politik. Dalam KBBI, terminologi demagogi dijelaskan sebagai "penghasutan terhadap orang banyak dengan kata-kata dusta untuk membangkitkan emosi rakyat". Sementara itu dalam KBBI istilah demagog dijelaskan sebagai, "(pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk memeroleh kekuasaan".

Apa yang dimaksudkan Mikus ini ada benarnya juga. Jika dalam politik agitasi demagogi dimaksudkan untuk memeroleh kekuasaan, maka begitu pun penggosip dan kroninya. Mereka berusaha merebut kekuasaan sebagai satu-satunya orang atau kelompok orang yang punya 'legitimasi' dan berhak menghakimi orang lain dengan memberi label negatif.

Goal akhir dari aktivitas diskursus dangkal seperti ini adalah mengangkat citra penggosip dan para kroni sebagai orang yang baik, bahkan tanpa cela sembari mendiskreditkan subjek tertentu. Para demagog (penggosip dan kroni), tentu tak akan rela kehilangan peran protagonis heroik dalam narasi yang dibangunnya sendiri.

Bagi saya, penggosip dan kroninya bahkan lebih hina dari para demagog. Penggosip adalah "demagognya para demagog". Jika demagog menyasar penguasa untuk merebut kekuasaan dengan diskursus agitatif, penggosip malah menyasar sesama masyarakat yang tak punya power, dan kebijakan apapun.  Tak berlebihan jika orang-orang ini disebut, "lebih demagog dari demagog".

Gosip adalah diskursus demagogi dalam versi 'radikal'. Penggosip dan kroni adalah demagog-demagognya. Anda tak perlu bermalam Jumat di pekuburan sekedar ingin melihat setan. Mereka berkamuflase di antara kita. Tak perlu terlahir dengan karunia "mata gerak" (indra keenam) untuk melihat makhluk-makhluk tersebut. Anda tentu pernah bertemu makhluk-makhluk ini, bukan?


☕☕☕


#Ame'd Ibell

Rabu, 20 Mei 2020

CANDA CORONA


Tak ada yang betul-betul menyepelehkan covid-19.  Banyak negara yang memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga yang lebih radikal, lockdown dalam menekan laju perkembangan pandemik ini. Itu sudah cukup menunjukkan betapa ngeri entitas satu ini.

Namun, di tengah situasi darurat seperti itu, ada situasi yang 'paradoksal'. Tak jarang ditemukkan respon sosial masyarakat Manggarai yang cenderung santai, alih-alih menjadikannya bahan lawakan. Berbagai pelesetan dijumpai. Virus Corona disebut virus "dorona". Ada pula yang memelesetkan Covid-19 menjadi "Cowik-19", dan masih banyak bentuk pelesetan lain.

Tak ketinggalan, kebijakan pemerintah dalam melandaikan kurva persebaran virus tersebut, turut dipelesetkan. PSBB yang kita tahu sebagai bentuk singkat dari Pembatasan Sosial Berskala Besar, dipelesetkan menjadi "Perpanjangan Saep Berskala Besar". Demikian pula 'lockdown' yang dipelesetkan menjadi "loakdehaun".

Realitas tersebut seolah-olah menunjukkan, bahwa pandemik menakutkan tersebut tak cukup menyeramkan bagi sebagian masyarakat Manggarai. Covid-19, seperti kehilangan 'marwah' sebagai salah satu pandemik mematikan.

Respon sosial paradoksal itu pun mendapatkan banyak komentar. Tak sedikit pula yang membuli dengan komentar bertendensi satir, bahkan sarkastis. Bagi orang-orang ini, hanya mereka yang 'dikaruniai' kedunguan hakiki yang berani mengajak maut bercanda.

Mencermati fenomena sosial tersebut, Lolus dan Mikus tak latah ikut arus. Kedua sahabat itu tidak menggunakan perspektif kognisi sosial dominan dalam mendekonstruksi sosial teks, di balik merebaknya pandemik ini. Bagi keduanya, respon paradoksal, bukanlah ekspresi kedunguan sebagaimana yang diklaim sebagian orang. 

Lolusan Mikus, lebih melihat itu sebagai bentuk lain dari konkretisasi konsep kecerdasan. Tepatnya, kecerdasan emosional segelintir orang Manggarai. Tentunya, guyonan itu dalam konteks ketaatan terhadap  berbagai imbauan pemerintah.

Segelintir orang yang 'didungukan' ini seakan paham, kekhawatiran dan kepanikan hanya akan menurunkan sistem imun. Itu kondisi ideal bagi covid-19 melancarkan serangannya. Pesan sosiopragmatis yang ingin disampaikan orang-orang ini yakni, kecemasan adalah respon dungu dan kontraproduktif. Namun, mereka yang membuli, terlalu 'cerdas' untuk melihat makna laten dari sosial teks tersebut.

                      ☕☕☕

"Selain itu, ekspresi guyon itu juga menunjukkan, bahwa masyarakat kita sudah pernah melalui masa yang lebih sulit daripada wabah corona. Tidak heran, kita meresponnya dengan guyonan." Celetuk Mikus.

"Apa itu?" tanya Lolus penasaran.
"Politisasi penderitaan rakyat dan janji politik yang tak kunjung direalisasikan". jawab Mikus.

☕🇲🇨☕

(Ame'd Ibell)

Selasa, 19 Mei 2020

POLITIK 'WEDAK TACIK'



Pada suatu kesempatan 'ganda pelitik' di kantin depan kampus, Mikus bertanya pada Lolus.

"Bro, bagaimana menurut kraeng geliat 'politikus' jelang Pilkada di Manggarai?" Tanya Mikus.

"Politisi itu hampir semuanya sama. Mereka berjanji membangun dermaga, meskipun sebenarnya tidak ada pantai di sana. Kecerdasan literasi politik menjadi penting bagi kita sebagai instrumen filtrasi berbagai konstruksi narasi politik seperti ini."  Lolus menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

"Politics is the art of all possibilities, kawan. Segala kemungkinan bisa terjadi dalam politik. Termasuk janji politis membangun dermaga, meskipun sebenarnya tidak ada pantai di sana", Mikus merespon jawaban Lolus.

"How's that gonna happen, bro? " Lolus pun tak mau kalah. Ia balik merespon sahabatnya dengan bahasa kolonial.

"Program 'wedak tacik'. Jika sudah dibangun, dermaga itu akan diberi nama Machiavelli international port", jawab Mikus singkat, sambil menyalakan kembali rokok sebatang, yang sejak sepekan lalu 'cicil' dihisapnya.


☕ 🇮🇩 ☕


(Ame'd Ibell)

GENERASI 'PSEUDOKRITIS'


Dulu, saat masih belajar di seminari menengah Yohanes Paulus II Labuan Bajo (SMA), guru mata pelajaran Retorika saya pernah berkata seperti ini:
"Banyak baca, banyak tahu. Sedikit membaca, sedikit tahu. Tidak membaca sama dengan?"

Kompak dan cepat kami menjawab, "Tidak tahu, Frater". Beliau tertawa mendengarkan jawaban kami itu. Menurutnya, kami terlalu polos mengartikan implikasi logis dari dua proposisi awal yang dibangunnya. Jawaban yang diharapkannya untuk melanjutkan dua premis itu adalah "Tidak Baca sama dengan Sok Tahu". Dengan begitu pernyataan itu menjadi, "banyak baca, banyak tahu; sedikit baca, sedikit tahu; tidak baca, ya sok tahu."

Kami semua tertawa dalam perasaan malu. Sebab, pernyataan itu juga ditujukkan pada kami. Kami terlalu prematur menyampaikan konklusi implikatif dari dua proposisi terdahulu, tanpa membaca berbagai konteks implikatur dan presuposisinya.

Apa yang kami pelajari hari itu, masih sangat relevan dengan konteks sosioliterasi pada era posttruth dan era digital, seperti hari ini. Penghuni era ini, terlalu berani dan prematur menangkap, serta merespon sebuah informasi, tanpa punya habitus membaca. Jangan ditanya, berapa koleksi buku yang mereka punya. Jika ada satu pun, mungkin tak habis dibaca. Apalagi melakukan penalaran "insigh" dengan substansi buku-buku lain, ah gelap. Bagi mereka, yang penting eksis, agar terlihat keren, meski pseudo-kritis.

Bangsa kita telah, sedang, dan akan berada dalam situasi krisis. Sebab, banyak generasinya yang ingin tampil kritis, namun krisis kebiasaan membaca. Tak heran, mereka kemudian muncul sebagai demagog-demagog.

                     ☕☕☕

"Sot model neho nggoo kole lebih bahaya onemai wirus corona, ew mekas?" Mikus tiba-tiba memotong pembicaraanku.

"Aewh, toe wirus corona ew, Kus. 'Wirus Cowik-19 ew." Celetuk Lolus.

☕🇲🇨☕

(Ame'd Ibell)






Minggu, 17 Mei 2020

GENERASI OLD SCHOOL LEBIH KEKINIAN


Pada umumnya, argumentasi dasar konsep hukuman (punishment) dalam praktik pendidikan adalah upaya sistematis untuk mendisiplinkan anak didik.


Pengertian disiplin di sini, dapat diartikan sebagai pemahaman ihwal konsep pedagogis dan praktik sosial yang sesuai dengan tata nilai tertentu yang dikehendaki. Upaya pendisiplinan itu kemudian secara singkat dilakukan dengan cara memberikan hukuman (punishment).

Hal ini secara teoretis dipengaruhi perspektif mazhab behaviorisme dalam psikologi belajar. Secara umum, paradigma mazhab kondang tersebut dapat dirumuskan dengan konsep stimulus-respon (S-R), stick and carrot, pengkondisian (conditioning), habituasi, dan sejenisnya dalam praktik pembelajaran.

Dalam perspektif behaviorisme, punishment adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh pendidik (guru) sesudah terjadi suatu pelanggaran, atau kesalahan. Hukuman juga dapat diartikan sebagai pemberian sesuatu yang tidak menyenangkan, karena seseorang tidak melakukan apa yang diharapkan, sebagaimana ada di dalam indikator kompetensi.

Pemberian hukuman akan membuat seseorang menjadi kapok dan tidak akan mengulangi yang serupa lagi. Punishment merupakan siksaan atas perilaku yang telah diperbuat (Echols,1992:456).
Dalam rekayasa pedogogis, tindakan reward dan punishment merupakan sebuah metode belajar yang dimaksudkan sebagai tindakan disiplin atau motivasi pada anak. Reward dan punishment ini dihubungkan dengan reinforcement yang diperkenalkan oleh psikolog Amerika, Edward Lee Thorndike (1898-1901).

Dalam jaringan rekayasa pedagogis, reward dan punishment merupakan upaya membuat anak untuk mau dan dapat belajar atas dorongan sendiri dalam mengembangkan bakat, pribadi dan potensi secara optimal. Sehingga pemberian reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) telah dijadikan sebagai strategi metode pendidikan dalam proses pembelajaran yang diharapkan anak didik berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Hukuman (punishment) juga dapat dikatakan sebagai penguat yang negatif, tetapi dalam pemberian hukuman harus diberikan secara tepat dan bijak sehingga dapat menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, pemberian hukuman tidak serta merta sebagai suatu tindakan balas dendam pendidik (guru) terhadap anak didiknya yang tidak bisa mencapai harapan yang diinginkan dalam indikator kompetensi.

Dalam hal ini pendidik (guru) harus memahami segala bentuk prinsip-prinsip pemberian hukuman sebagai sanksi kependidikan. Secara subtansi, reward dan punishment mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebagai reinforcement (penguatan) demi tercapainya kemandirian belajar anak.

Dengan demikian, anak dianggap akan paham dan mengerti, bahwa suatu hal itu salah kalau ia diberi hukuman (punishment), dan sebaliknya, akan paham suatu hal itu benar kalau ia diberi hadiah (reward). Begitulah pemahaman sederhana konsepsi behavioristik dalam praktik pembelajaran.

Reward dan punishment sebagai metode pembelajaran akan sangat ideal dan strategis bila digunakan sesuai dengan prinsip-prinsip belajar untuk merangsang belajar dalam kerangka mengembangkan potensi anak didik.

Pendidik (guru) hendaknya menguasai metode ini secara benar agar tidak berimplikasi buruk. Misalnya seorang pendidik menggunakan kekerasan dalam menegakkan kedisiplinan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang menjadikan anak trauma dan depresi.

Dalam sejarahnya, teori psikologi pembelajaran mengalami pergeseran paradigma. Teori psikologi pembelajaran berkembang ke arah psikologi kognitif dan kemudian mazhab humanistik.

Pada titik inilah, konsep hukuman (punishment) dalam praktik pendidikan dianggap kurang relevan, dan bahkan diangggap kontradiktif dengan hakikat pendidikan humanis. ketika pada masa dulu, hukuman itu diberikan dalam bentuk kekerasan fisik dan psikis.

Inilah titik epicentrum, di mana implementasi metode pembelajaran behavioristik dengan menerapkan hukum reward and punishment (S-R) cenderung didistorsi sebagai bentuk penganiayan para guru terhadap siswanya. Bertolak dari perspektif yang keliru itulah, kemudian digiring opini, bahwa mazhab behaviorisme tak lagi relevan denga pendidikan generasi 'zaman now'. Jika sudah begini, tidak heran kasus kekerasan orang tua murid terhadap guru semakin masiv.

Pada dasarnya, pendidikan sebagai kebutuhan hakiki manusia merupakan sesuatu yang kompleks. Berbagai permasalahan dalam pelaksanaan pendidikan harus dilihat dalam frame yang multiperspektif. Kesadaran ini harus dibangun dalam mainset orang tua murid dan para murid.

Dunia pendidikan kita terus mengalami perkembangan. Banyak metode pembelajaran baru yang bermunculan. Tak bisa dikatakan, bahwa kita hanya membutuhkan metode tertentu, dan menafikan metode lainnya.

Semua metode pendidikan itu baik. Tinggal saja bagaimana para guru dan praktisi pendidikan mampu memetahkan konteks kebutuhan peserta didik; dan mampu mendiagnosa situasi pembelajaran yang relevan dengan pilah-pilih metode pembelajaran.


☕☕☕


Salam kopi mok ringking

(Amed' Ibell)



JATUH CINTA VS BANGUN CINTA



"My heart is in my throat, begitu yang aku rasakan saat pertama berkenalan dengannya", sontak temanku memecahkan stagnannya situasi obrolan di warung kopi yang terhenti oleh asyiknya kesibukan memainkan jari pada perangkat telepon seluler kami masing-masing.

Sore itu aku dan temanku sedang menikmati pahitnya kopi yang memaniskan situasi di tengah guyuran hujan yang saat itu sudah membuat kami menghabiskan dua gelas kopi.

"Coo ite ew teman? (Kenapa teman?)", aku mulai meresponnya sambil mengarahkan tatapan padanya. "Ada yang bisa dibanting? Eh, maksudnya ada yang bisa dibantu?"

Dengan semangat, dia pun memulai curhatnya dengan dialek Manggarainya yang begitu kental dan cenderung memfosil. "Begini ka teman, saya ka sepertinya sedang ada rasa dengan seseorang ow."

"Ole, pau nai kraeng ko?" (Kamu jatuh cinta?) tanyaku dalam bahasa daerah (Manggarai) merespon pernyataannya.

"Ya, itu sudah ka teman" dengan logatnya yang kental ia mengonfirmasi pertanyaanku.

"Tapi teman, saya bingung juga e. Saya bingung bukan tentang saya 'tembak' dia atau tidak", lanjut kawanku ini.

"Apa lagi yang kau bingungkan kalau bukan masalah tembak-menembak?", tanyaku penasaran.

"Begini teman, kenapa situasi psikologis seperti yang sedang saya alami sekarang ini kita di Indonesia sebut dengan Jatuh Cinta ew?"

"Kenapa tidak 'bangun cinta' saja? Itu sepertinya lebih tepat dengan situasi seperti ini. Mungkin kalau cinta itu bermasalah, istilah Jatuh Cinta jadi lebih tepat dipakai", begitu kawanku memberi penjelasan.

Mendapat pertanyaan tersebut, saya mencoba sedikit oportunis dan pragmatis.

"Hem, kalau kau mau dengar pendapatku, pesan lagi satu gelas kopi, bagaimana? Biar enak muncul idenya".

"Bu, kopinya satu lagi ya?" tanpa tedeng aling, ia kembali memesan segelas kopi. Tak lama berselang, kopi pun datang.

"Begini teman, situasi seperti itu merupakan sesuatu yang manusiawi dan universal. Karena itu, setiap masyarakat dunia pasti memiliki terminologi tertentu sebagai konkretisasi konsep situasi yang sedang kau rasakan itu. Secara konvensional, kita di Indonesia menyebutnya dengan Jatuh Cinta."

"Falling in love, begitu pengguna bahasa Inggris menyebutnya".

"Orang Jerman, negara asal Mesut Ozil menyebutnya dengan verlieben".

"Orang Spanyol, negara asal David de Gea menyebutnya dengan enamórate".

"Orang Prancis, negara asal Paul Pogba, menyebutnya amoureux".

"Orang Belanda, negara asal Robin van Persie, menyebutnya verliefd".

"Orang Portugal, negara asal CR-7 menyebutnya apaixonada".

"Dan kita orang Manggarai menyebunya dengan pau nai".

"Kalau ditelusuri, istilah yang digunakan berbagai bahasa bangsa di dunia dalam menggambarkan konsep situasi seperti itu merujuk pada pola gabungan kata [jatuh] dan [cinta]".

"Mengapa harus 'jatuh cinta' dan 'bukan bangun cinta', begitu konsep pertanyaanmu?" Kembali ku bertanya mengonfirmasi kepadanya.

"Komposisi kata [jatuh] dan [cinta] dalam mendeskripsikan konsep situasi 'baper' seperti yang kau alami, tentu bukanlah sesuatu yang acidental. Itu adalah suatu konsensus linguistik yang final."

"Kalau memang orang Inggris sekonsep denganmu, maka sudah tentu situasi itu akan dikonkretisasikan dengan frasa 'Building in love', dan bukan falling in love".

"Adoh, mati sudah, ini istilah-istilah ini buat saya wc keras saja". Ia menyela pembicaraanku.

"Jadi begini teman, mengapa kata [cinta] disandingkan dengan kata [jatuh] untuk menggambarkan situasi yang sedang buat kau baper itu?"

"Jatuh itu gerak hempas yang tak disengajakan dan direncanakan. Kita tidak pernah tahu kapan, di mana, dan bagaimana kita jatuh."

"Dalam konteks ini, kita tidak pernah tahu, kapan di mana, bagaimana, dan dengan siapa kita jatuh cinta".

"Lalu bagaimana dengan istilah membangun cinta?" Ia kembali menyela penjelasanku.

"Ketika orang sudah jatuh cinta, maka yang perlu dibangun adalah kepercayaan, tanggung jawab, dan kebahagiaan."

                      ☕☕☕


Keasyikan beropini kopiku pun habis diembat sang empunya traktiran.


(Ame'd Ibell)



SPONGEBOB SQUAREPANTS DAN DISKURSUS 'AMICITIA'


Spongebob Squarepants adalah sebuah serial animasi yang paling populer di Nickelodeon. Pada awalnya, serial kartun ini ditayangkan tahun 1999 di Amerika Serikat dan dicipta oleh Stephen Hillenburg, seorang animator dan ahli biologi laut. Film ini diterbitkan oleh perusahaan United Plankton Pictures Inc.

Kualitas film animasi yang satu ini tak perlu disangsikan lagi. Film kartun Spongebob Squarepants sudah ditayangkan di seluruh dunia. Salah satunya di Indonesia. Bahkan, sudah diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain selain Inggris, seperti bahasa Indonesia, Jerman, Perancis dan masih banyak lagi. Ini sudah cukup menjadi bukti sahih kualitas film kartun tersebut.

Episode Spongebob pada umumnya menarasikan kisah persahabatan Spongebob dan sahabatnya, Patrick, si bintang laut. Karakter kedua sahabat ini begitu polos, bahkan cenderung naif.
Ada beberapa episode Spongebob Squarepants yang menarasikan tentang persahabatan. Entah itu episode persahabatan yang lucu, sedih bahkan haru.

Beberapa episode tersebut di antaranya: (1) 'I'm With Stupid' yang mengisahkan tentang sikap persahabatan yang saling membantu; (2) 'Big Ping Loser', yang berbicara tentang kesabaran dan usaha keras; (3) 'Texas'; bercerita tentang rasa sayang dalam persahabatan; (4) 'Tea at The Treedome'; mengisahkan tentang sikap persahabatan yang saling menyemangati; dan (5) 'Dying For Pie', yang menarasikan ihwal kesetiaan dalam persahabatan.

Dari beberapa epsiode tersebut, yang disebutkan terakhirlah yang menjadi favorit saya. Ya, episode 'Dying for Pie'. Episode ini sungguh membuat semua orang sedih, bahkan terharu. Ada dua petikan perkataan Spongebob yang membuat epiosode tersebut semakin menarik dan selalu dikenang.

Pertama, pengetahuan tidak dapat menggantikan persahabatan. "Aku lebih suka jadi idiot daripada kehilanganmu”. Ini merupakan pernyataan Patrick kepada Spongebob, sahabatnya. Pernyataan yang sunggu naif bukan? Namun, mampu mengekspresikan bagaimana kecintaannya pada Spongebob, sahabatnya.

Kedua, "Kalau uang bisa membuatku melupakan sahabat terbaikku, maka aku lebih memilih untuk tidak memiliki uang sama sekali." Demikian Spongebob membalas pernyataan Patrick. Pernyataan ini juga tak kalah konyolnya. Namun, sanggup mengekspresikan kecintaannya kepada Patrick, sahabatnya.

Mungkin apa yang kedua karakter kartun itu sampaikan terdengar konyol, bahkan cenderung naif. Namun, itu merupakan pesan naratif yang relevan dengan kondisi relasi sosial manusia di era milenial yang cenderung pragmatis dan individualis.

Secara hermeneutis, dalam pernyataan konyol dan cenderung naif kedua sahabat tersebut, terdapat sketsa orientasi hidup manusia era milenial. Pernyataan konyol tersebut merupakan simbol dan metafora yang merepresentasikan kecenderungan manusia yang hanya mencari harta dan pengetahuan tanpa mempedulikan aspek humanisme.


                              ☕☕☕

(Ame'd Ibell)

Jumat, 15 Mei 2020

KITA KELEDAI, KELEDAI BUKAN KITA


Semua tahu, Yesus menunggangi seekor keledai saat memasuki kota Yerusalem, jelang paska Yahudi. Peristiwa ini, kemudian kita peringati sebagai "Minggu Palma". Namun, tak banyak yang tahu mengapa harus keledai yang dipakai, bukan kuda yang ukurannya jauh lebih besar, bertenaga, dan tampak lebih agung.
"Jadi nggoo ew, ase kaen." Lolus mulai menjelaskan, sambil menyeruput kopi.
Pertama, untuk menggenapi nubuat Nabi Zakharia di Perjanjian Lama. "Lihat, Rajamu datang kepadamu; Ia adil dan jaya; Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai" (Zakharia, 9:9).
Kedua, sebagai raja Yesus berbeda dengan raja-raja besar, seperti Alexander Agung. "Alexander the Great" menunggang kuda perang, dengan segala kemegahannya, dan niat untuk berperang.
Ketiga, Raja Salomo, dulunya juga menunggangi keledai yang dimiliki Raja Daud. Ini terjadi ketika ia menuju penobatannya menjadi raja bani Israel.
Dari semua koherensi narasi biblical tersebut, ada sebuah ruang dialektika, untuk diinterpretasi secara hermeneutis. Semiotika narasi tekstual yang ingin disampaikan Alkitab adalah, bahwa dengan menunggangi keledai, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Anak Daud, dan sebagai Raja Israel.
Kala itu, keledai adalah hewan pembawa beban. Ini sama seperti Yesus, yang membawa beban dosa kita melalui rangkaian peristiwa penyaliban. Dalam konteks ini, keberadaan keledai adalah piranti semiotika yang menjadi wadah metaforal misi perutusan Yesus.
Kita semua tahu, keledai selalu dikonotasikan negatif. Hewan bernama Latin "equus asinus" ini, kerap dipakai melambangkan kebodohan. Namun, jika Anda memahami sejarah peradaban manusia, maka Anda paham mengapa Yesus memilih keledai sebagai instrumen semiotik perutusan dan pewartaannya.
Lewat temuan baru peneliti dari Universitas Bar-Ilan Israel pada 2013, terungkap kedelai digunakan lebih dulu sebagai alat transportasi jauh sebelum kuda dijinakkan dan menggantikan posisinya. Sebagai sarana transportasi, hewan ini telah ambil bagian dalam kehidupan politik, sosiokultural, dan ekonomi dari banyak negara, kala itu.
Tak hanya sebagai sarana transportasi, pada masa itu, keledai juga adalah sarana komunikasi. Ini terjadi melalui aktivitas perjalanan perdagangan lintas negara. Perpindahan itu memungkinkan adanya pertukaran informasi dan kontak sosiokultural antarwilayah. Dalam hal itu, keledailah jembatannya. Keledai kala itu, seperti 'prototipe' teknologi digital dengan layanan 4G, seperti saat ini.
Keledai bukan saja hewan pengangkut beban, yang kemudian menjadi piranti semiotika Yesus memikul dosa manusia. Keledai juga adalah metafora misi perutusan dan penyebaran informasi dan kabar keselamatan yang dibawa Yesus bagi segala bangsa.
Sampai pada titik ini, saya kagumi sosok Yesus. Dia adalah ahlinya semiotika komunikasi. Ia mendekonstruksi kembali pemahaman saya tentang keledai sebagai simbol kebodohan.



"Mekas, apa iw bahasa Manggarain keledai?" Celetuk Mikus.

Mendengar pertanyaan Mikus, Lolus berpikir keras. Ia tampak mulai melahap setiap helai daun palma yang baru dibawanya sepulang gereja.

🇲🇨