This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 25 Desember 2020

UCAPAN NATAL LOLUS UNTUK MIKUS

Dear Mekas Mikus,

Halo lawan debat sekaligus sahabat belajarku. Coo koe situasi natal one beo dite, mekas? Semoga aura cinta kasih natal, begitu murni hadir di antara kalian. Oh ya, sebelum kau berangkat pulang kampung, kau sempat bertanya padaku, ihwal apa pendapatku tentang perayaan natal sedekade ini. Melalui ucapan natal ini, saya juga ingin menjawab pertanyaanmu, kawan.
Mekas, jika ada satu kata bagiku untuk menggambarkan tentang natal pada dekade ini, maka itu adalah adjektiva "materialistis". Jika ada konstruksi frasa yang tepat untuk mendeskripsikan kecenderungan perayaan natal sedekade ini, maka itu adalah "konsumerisme modern".

Dalam kartu ucapan ini, dilampirkan sebuah gambar yang saya yakin, mampu melukiskan dengan sempurna persepsi saya tentang natal dekade ini, seperti yang kau tanyakan. Gambar yang saya lampirkan tersebut adalah lukisan karya pelukis jalanan. Lukisan tersebut merupakan karya satir seniman jalanan Inggris, 'Bansky'. Mekas, lukisan satir berjudul "Christ With Shopping Bags" tersebut, dipajang di Moco Museum, Amsterdam.

Christ With Shopping Bags (Bansky)
Christ With Shopping Bags (Bansky)

'Banksy' adalah seorang seniman grafiti, aktivis politik, sutradara, dan pelukis yang berbasis di Inggris Raya. Seni jalanannya yang satir dan epigram subversif menggabungkan humor gelap dengan grafiti yang dieksekusi dengan teknik stencilling yang khas.
Dalam lukisan itu, 'Banksy' mengkritik konsumerisme dalam masyarakat dan khususnya Natal. Alih-alih menjadi momentum untuk memusatkan perhatian pada nilai-nilai Kristen tentang cinta, kasih, belas kasih, dan pengampunan, Natal telah menjadi waktu kepuasan pribadi melalui konsumsi materialistis.
Dalam karya seni "Christ With Shopping Bags", Kristus disalibkan, dan tampak sakitnya tidak berkurang karena beratnya tas belanjaannya. "Christ with Shopping Bags" adalah sindiran tentang nilai-nilai, persepsi, dan distorsi value hari Natal. Hingga abad ke-20, Natal adalah peringatan kelahiran Yesus Kristus, batu penjuru bagi agama tersebut. Terlepas dari khotbah dan ritual makan malam khusus, Natal adalah hari istirahat dan refleksi dan tidak disibukkan dengan hal-hal materi dalam kehidupan. Di zaman modern, Natal telah menjadi simbol konsumerisme yang merajalela. Hadiah dan pesta pora begitu dihargai, bahkan dengan menonjolkan hutang dan kerakusan.
Mekas, eme perhati tuung lite gambar hitu, semua bagian gambar itu tampak meleleh. Itu adalah semiotika figural yang mengingatkan kita, bahwa barang material dan kesenangan tidak bertahan lama. Am, nggitu keta iw maksudn latang ite le mekas Bansky.

Kawanku Mikus, sebelum menutup suratku ini, adakah menurutmu kita berdua termasuk dari kebanyakan umat Yesus yang cenderung mereduksi makna Natal sekedar sebagai momentum pemuasan budaya konsumerisme?
Salam damai natal kawan akal sehatku. Salam kesederhanaan dalam Kristus Yesus. Jangan lupa, ngopi pagi pakai 'mok ringking'. (Sahabatmu, Lolus)
☕🎄🌲🇮🇩
#IdoRingking
#AmedIbell
#TabeNatal2020

Minggu, 13 September 2020

KITA YANG EGOTEOLOGIS

Tak terasa, Minggu telah kembali, setelah enam hari pergi. Tidak seperti biasanya, pagi itu Lolus dan Mikus memilih untuk tak mengunjungi rumah Tuhan. Kedua sahabat itu lebih memilih mencuci pakaian sembari memenuhi tong-tong dengan air. Kebocoran pipa PDAM yang memuncratkan air gratis di belakang rumah indekost, seolah menjadi oase berkah yang terlalu seksi dibiarkan. 

Bagi kedua sahabat itu, air yang keluar dari pipa bocor adalah berkat yang menghampiri mereka, tanpa harus berlutut memintanya dahulu ke gereja. 'Berkat' itu lantas membuat mereka begitu bersemangat mencuci semua tumpukan pakaian kotor yang sepekan belakangan telah 'meng-Golgota'. Tak hanya itu, keduanya membagi 'berkat' itu dengan makhluk Tuhan lain, seperti bunga, rumput, beberapa pohon kelor, dan beberapa tumbuhan lain yang tumbuh di sekitar rumah indekos.


mendatangi rumah Tuhan atau Berjumpa Tuhan?
Mendatangi 'rumah Tuhan' atau Berjumpa Tuhan?



Melihat kedua sahabat yang sedang asyik menikmati air dengan 'mode gratis' itu, seorang warga berpakaian rapi berkata, "oew nana, siapkan tong air yang banyak dengan ukuran jumbo".

"Aeh, ini saja tong air yang kami punya. Kenapa, Om?" tanya Mikus.

"Di neraka tidak ada sumber air ew!" jawab warga tersebut, diiringi gelak tawa beberapa warga lainnya. Tampaknya, warga tersebut baru saja mengikuti ibadah Minggu di gereja.

Selepas kepergian para warga tersebut, Mikus bertanya pada Lolus, "Yang itu Om omong tadi, maksudnya apa ew, mekas?"

"Aeh, kita ngobrol di kos saja sambil ngopi. Cucian su beres ni ew, bro." jawab Lolus.

                                                               ☕☕☕

Diakui atau tidak, persepsi manusia tentang Tuhan berbeda-beda. Itu kenyataan tak terbantahkan.

Hal itu tampak dalam fakta, bahwa tak sedikit di antara kita yang lebih takut akan dosa dan neraka, daripada Tuhan itu sendiri. Tidak mengherankan jika persepsi ini memunculkan golongan orang yang menganggap diri telah berhak atas "kapling surga", hanya karena telah melakukan pertobatan atas dosa-dosanya.

Orang-orang itu tidak akan sungkan dan begitu mudahnya mengudeta wilayah prerogatif Tuhan. Jika mengkudeta wilayah prerogatif Tuhan saja dilakukan tanpa sungkan, maka mereka pun tak akan malu mengklaim diri sebagai "yang maha benar".

Merasa paling benar, menganggap orang lain pendosa, lalu berhak menerakakannya. Semua itu berembrio pada cara manusia saat ini memandang Tuhan.

Tabe Minggu, rakat!

  ☕☕☕

#AmedIbell
#Lolus

Senin, 17 Agustus 2020

CONCORDIA CIVIUM MURUS URBIUM

"Concordia Civium Murus Urbium" (Persatuan dan kesatuan warga adalah benteng pertahanan terkuat suatu bangsa dan negara).

Begitu semboyan bangsa Romawi kuno. Sejak  puluhan abad yang silam, salah satu bangsa dengan peradaban besar ini telah menyadari arti signifikan persatuan dan kesatuan warga negara.

Melalui adagium "Concordia Civium Murus Urbium" itu, bangsa Romawi kuno mencoba membangun sebuah analogi, dengan mengambil tembok benteng stronghold pada masa imperium Roma, sebagai elemen semiotik persatuan dan kesatuan.

Jika persatuan itu dianalogikan dengan tembok benteng, maka kualitas relasi kebangsaan antarindividu maupun antarkelompok dan golongan adalah  batu batanya.



"Concordia Civium Murus Urbium"


Sulit membanyangkan, bagaimana sebuah benteng stronghold bisa berdiri kokoh nan gagah, jika di antara batu batanya enggan untuk saling berdekatan agar dapat saling memberikan kekuatan pada konstruksi benteng. Batu yang satu merasa lebih kokoh dari batu yang lain, batu yang satu merasa tak cocok jika didekatkan dengan batu yang lain.

Jika demikian adanya, maka musuh tak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga dan perlengkapan amunisi persenjataan untuk merobohkan benteng tersebut, sebab dengan sendirinya batu-batu benteng tesebut akan memerangi sesamanya.

Belum terlambat bagi kita untuk menyadari arti penting adagium Romawi kuno tersebut. Tetapi, tak berarti kita punya waktu cukup banyak untuk bersantai dan sejenak mengabaikan implikasi mengerikan yang bisa saja muncul dengan mengabaikan adagium tersebut. Lebih-lebih di tengah situasi darurat pandemi covid-19 ini.

Peringatan proklamasi ke-75 ini, bisa jadi momentum yang baik untuk mengisi kemerdekaan bangsa dengan semangat persatuan tanpa sekat perbedaan.

Kita memang beda. Namun, kita sama dalam mengisi kemerdekaan dengan menjaga persatuan dalam membangun bangsa dan negara.

Dirgahayu negeriku. Semoga tetap berjaya dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.



#AmedIbell



Sabtu, 04 Juli 2020

AKU CINTA KAMU VS KAMULAH YANG KUCINTA: ENU PILIH MANA?

Sepertinya, baru kemarin malam minggu berlalu, kini sudah malam minggu lagi. Bagi sebagian orang, malam minggu identik dengan malamnya muda-mudi. Malam pacaran, malam di mana tuturan "aku mencintai kamu" banyak menghiasi topik pembicaraan muda-mudi kasmaran, begitu kira-kira. Namun bagi Mikus yang sejak lama menjomlo, ia lebih banyak menghabiskan waktu sambil ber-facebook ria dengan mode gratis di teras kamar kos. Bagi anak muda penggemar tim sepak bola Barcelona ini, melewatkan 'horornya' malam minggu dengan berpikir kritis meski 'nyeleneh' lebih mengasyikan daripada berpacaran. Ia tertarik untuk membicarakan, "aku mencintai kamu"  atau "kamulah yang aku cinta".


Aku Cinta Kamu vs Kamulah yang kucinta
"Aku Cinta Kamu vs Kamu Kucintai"
Apa yang dibicarakan Mikus itu merupakan fenomena bahasa. Bahasa dan kebermaknaannya selalu menarik dikaji, memang. Urutan kata dalam sebuah konstruksi sintaksis adalah salah satu hal menarik dikaji, sebab itu adalah salah satu aspek penentu makna kalimat. Yang dimaksud dengan urutan kata adalah letak atau posisi kata yang satu dengan kata yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis. Dalam bahasa Indonesia, urutan kata ini tampaknya sangat penting.

Perbedaan urutan kata berimplikasi pada perbedaan makna. Dengan lain perkataan, dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang apabila diubah urutannya, aka berubah pula maknanya. Misalnya, konstruksi sintaksis pada frasa "tabungan berhadiah" dan "berhadiah tabungan". Gabungan kata "tabungan berhadiah" bermakna 'tabungan yang menyediakan hadiah'. Sementara itu, bentuk gabungan kata "berhadiah tabungan"  memiliki makna 'memunyai hadiah berupa tabungan'. Contoh lain, urutan konstruksi "lagi makan" dan "makan lagi". Konstruksi pertama menyatakan makna 'proses makannya sedang berlangsung'; sedangkan konstruksi yang disebutkan terakhir menyatakan 'proses makannya berulang kali'.

Urutan kata dalam suatu konstruksi sintaksis juga menentukan fokus atau bobot pemaknaan. Kata yang diletakkan mendahului kata lain menjadi fokus atau bobot pemaknaan yang ingin disampaikan. Fenomena bahasa ini kerap kali dijumpai, bahkan digunakan dalam praktik berkomunikasi, hanya saja implikasi sosial di balik praktik seperti itu sering tidak disadadari. Sebagai contoh, konstruksi kalimat "Saya pergi ke Ruteng kemarin". Dalam konstruksi kalimat itu, bobot terbesar dan menjadi fokus penekanan pembicaraan adalah "saya". Jika fokus penekanan pembicaraannya adalah tujuan, maka frasa preposisional "ke Ruteng" sebagai keterangan tempat akan menduduki fungsi subjek (saya). Maksud tersebut kemudian mewujud pada konstruksi "Ke Ruteng saya akan pergi". Begitu pula jika fokus penekanannya ihwal 'waktu', maka konstruksi urutan kata dalam kalimat tersebut pun berubah. "Kemarin saya pergi ke Ruteng", misalnya. Dalam konstruksi yang seperti itu, adverbia 'kemarin' yang berperan sebagai keterangan waktu menduduki fungsi subjek.

Urutan kata tidak saja menentukan perbedaan makna dan titik fokus penekanan dalam suatu proposisi. Urutan tersebut, juga menentukan kemutlakan dari sesuatu yang dibicarakan dalam kalimat tersebut. Dalam hal ini urutan kata dalam sebuah konstruksi sintaksis, berimplikasi pada dijadikannya hal tertentu sebagai prioritas dari sebuah kalimat. Saat Anda mengatakan "Saya butuh uang nih" pada rekan atau saudara, misalnya. Dalam konstruksi kalimat itu, yang terpenting adalah saya (Anda), bukan uang. Mungkin saja, respon yang muncul adalah Anda diberi nasi bungkus, dan bukan uang oleh rekan atau keluarga sebagaimana yang diminta. Siapa tahu, Anda butuh uang untuk membeli makanan (nasi bungkus).

Lain halnya, jika yang diprioritaskan adalah uang. Urutan kalimat tersebut akan dikonstruksi menjadi, "Uanglah yang saya butuhkan". Dalam konstruksi yang seperti itu, 'uang' menjadi hal yang diprioritaskan, bukan nasi bungkus atau barang-barang lainnya.

Selain dari berbagai hal tersebut di atas, urutan kata dalam suatu konstruksi kalimat berimplikasi pada seberapa egois seseorang. Ketika pasangan Anda mengatakan "Aku cinta kamu", misalnya. Fokus penekanan dalam urutan konstruksi kalimat seperti itu adalah "aku", bukan "kamu". Saya ingin kamu tetap mencintai saya, karena itu saya mencintai kamu. Saya tersakiti jika kamu tidak mencintai saya. Karen itu saya menjaga agar kamu tetap mencintai saya dengan cara saya mencintai kamu. Dalam konstruksi seperti itu, ada kesan egois dan inklusifitas yang kerap kali tak disadari kemunculannya.

Berbeda halnya jika kalimat tersebut disampaikan dengan pola konstruksi berbeda. Pronomina persona "kamu" yang sebelumnya menduduki fungsi objek, diletakkan pertama, sehingga menjadi "Kamulah yang saya cintai". Dalam konstruksi kalimat yang seperti itu, kesan egois dan inklusifitas tidak lagi muncul. Si "aku" tetap mencintai si "kamu", meski tak begitu sebaliknya. Pronomina persona "kamu"  menjadi prioritas utama dari aktivitas mencintai yang dilakukan si "Aku". Si "Aku" bahkan menggeser dirinya dari posisi awal dalam susunan kalimat tersebut, untuk memberikan posisi terdepan pada "si kamu".

Bahasa dalam perspektif Pierre Bourdieu bukan semata alat komunikasi. Baginya, bahasa bukanlah entitas netral,  tanpa tendensi kepentingan (kekuasaan). Tesis Pierre Bourdieu menyata dalam kalimat "aku mencintai kamu". Titik fokus kepentingan ada pada si "aku".




☕☕☕

"Bagaimana dengan pihak korporasi tambang yang bilang kami mencintai warga Luwuk dan Lingko Lolok, makanya kami dirikan tambang di sana?" celetuk Mikus pada Lolus.

'Selekedep, ew!"



☕☕☕

#AmedIbell





Jumat, 12 Juni 2020

KUTUK PANOPTIK

Jangan membuat orang tua sakit hati, sebab Anda dapat tertimpa masalah. Anda bisa dikutuk. Jadi batu, misalnya. Setidaknya, itu yang mau disampaikan melalui diskursus naratif dalam dongeng "Malin Kundang", maupun dongeng "Si Tanggang"

Jika sedikit mau berpikir kritis, mari kita mendekonstruksi supremasi orang tua dalam diskursus naratif pada dongeng-dongeng tersebut. Apa perlunya kita berpikir kritis, dan mendekonstruksinya? Sederhana saja, agar kita tidak menerima diskursus hegemoni mitologis dalam dongeng tersebut, sebagai sesuatu yang dogmatis. Ada hegemoni panoptik dalam dongeng-dongeng tersebut.

Malin Kundang

Hegemoni selalu terakulasikan melalui pengetahuan, dan pengetahuan selalu punya efek kekuasaan, begitu kata Michael Foucault. Lebih lanjut, ia mengatakan setiap kekuasaan selalu berpretensi menghasilkan 'episteme' kebenaran tertentu, melalui wacana yang dikonstruksi. Tujuannya, tak lain untuk melanggengkan hegemoni. Dongeng adalah salah satu bentuk wacana tersebut.

Dongeng-dongeng tersebut mengambil kendali sistem pengetahuan dalam diri kita. Hegemoni senioritas yang ada dalam dongeng tersebut tidak bekerja represif dalam menutup celah alternatif berpikir kita. Cara berpikir kita dimapankan melalui normalisasi dan regulasi. 

Normalisasi dan regulasi episteme itu membuat kita sulit  menemukan wacana naratif (dongeng) yang mengisahkan orang tua yang dikutuk menjadi batu oleh anaknya. Hegemoni dalam dongeng tersebut 'memaksa' cara berpikir kita untuk patuh pada justifikasi pengetahuan, bahwa hanya orang tualah yang punya legitimasi mengutuk anak. Orang tua ”memalingkundangkan” anaknya adalah normal. Tidak normal jika anak ”membatukan” orang tua, meski orang tua durhaka pada anaknya. Kita 'dipaksa' tunduk di bawah episteme hegemoni diskursif seperti ini. Itu tidak dilakukan melalui aksi represif, melainkan secara normalisasi dan regulasi. Cara berpikir kita disetir agar menerima pengetahuan justifikatif dan tak berpikir dekonstruktif, tetapi nyaris tak terasa. 

Salah satu fungsi mitos adalah memenangkan pertarungan wacana, melanggengkan dan kemudian menjadi alat kontrol diskursus sosial yang efektif, dalam kehidupan masyarakat di mana mitos itu hidup. Dongeng adalah salah satu media bagi mitos dalam mengontrol perspektif dan sikap setiap individu dalam skemata kognisi sosial. Dongeng "Malin Kundang", misalnya. Narasi itu adalah alat untuk melanggengkan superioritas orang tua, sebagai entitas yang harus 'dihormati', 'dipatuhi'. Jika tidak, jadi batu mekas!

Mari kita dekonstruksi diskursus itu dengan nalar yang berbeda. Bagaimana jika orang tua yang justru mengecewakan hati anaknya? Dahulu, mungkin sulit diterima jika ditemukan orang tua semacam ini. Namun, paradigma kehidupan dunia sudah berubah. Kerasnya kehidupan, menjadikan hal itu mungkin. 

Dahulu, Malin Kundang dikutuk menjadi batu karena tak mengakui ibunya. Sekarang, tak jarang ditemukan orang tua yang menjadi "Malin Kundang" bagi anaknya. Tak sedikit ibu yang membuang atau mengaborsi anaknya menghiasi berbagai pemberitaan media, saat ini. Seharusnya, mereka juga dapat dikutuk menjadi batu oleh anak-anaknya! Namun, tampaknya tak ada diskursus seperti itu dalam konstelasi kebudayaan naratif kita.

Mitos dalam perspektif perang wacana, pada dasarnya bertujuan panoptik. Itu ditujukan untuk membuat kita tunduk pada supremasi orang tua. Mitos "Malin Kundang" terus menyoroti kita seperti lampu suar lapas. Itu membuat kita tidak mampu keluar dari untuk berpikir dekonstruktif, bahwa orang tua pun bisa menjadi "Malin Kundang" bagi anak-anaknya. Itulah panoptik.


☕☕☕


(Ame'd Ibell)

Rabu, 10 Juni 2020

KITA & BAHASA


DETONASI DENOTASI

Manusia adalah makhluk berbahasa (homo languens). Tanpa bahasa, manusia bukanlah manusia. Martin Heideger mengonfirmasi itu, dengan mengatakan, bahwa bahasa adalah rumah eksistensi. Ini relevan dengan eksistensi bahasa sebagai entitas  paling utama dalam filsafat postmodernisme.

kita dan bahasa
Dengan dan melalui bahasalah, manusia dapat dipahami. Bahasa merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat penuturnya.

Fenomena perkembangan teknologi, misalnya telah banyak berpengaruh pada bahasa. Bagi anak-anak Manggarai generasi 90-an yang melewati malam dengan 'lampu gas'  (petromak), tentu tak akan bingung bila mendengar istilah "spuer". Namun, tidak demikian halnya dengan anak-anak era digital seperti saat ini. Kata tersebut akan memunculkan 'polisi tidur' di dahi mereka. Mereka 'autobingung'.

Selain akibat yang telah disebutkan di atas, perubahan bahasa juga kerap kali diakibatkan perubahan sikap dan mental penuturnya. Dengan kata lain, bahasa adalah artefak yang merekam jejak degradasi moral manusia penggunanya.

Seringkali sebuah kata mengalami degradasi nilai rasa akibat sikap para anggota masyarakat tuturnya. Masyarakat cenderung memaksakan penggunaan kata untuk mengakomodasi berbagai ’kepentingannya’. Akibatnya, kata tidak lagi digunakan sesuai dengan makna denotasinya.

Positif dan negatifnya nilai rasa sebuah kata, kerap kali terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambangan. Jika referen kata itu digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif, maka akan bernilai positif;  dan jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang negatif akan bernilai rasa negatif.

Ada banyak contoh penggunaan bahasa sebagai evidensi pernyataan tersebut. Nilai rasa negatif menjadi sorotan, di sini.

Kata "kebijaksanaan", misalnya. Denotasi kata tersebut bersifat positif, yakni 'kelakuan atau tindakan arif dalam menghadapi suatu masalah'. Fenomena sosial di masyarakat kemudian menjadikan kata tersebut berkonotosi negatif. Seorang pengendara sepeda motor yang ditilang karena melanggar peraturan lalu lintas meminta "kebijaksanaan" dengan sejumlah duit kepada petugas, agar tidak diperkarakan.

Contoh lainnya, orang tua murid yang anaknya tidak naik kelas mendatangi kepala sekolah untuk meminta "kebijaksanaan", agar anaknya dapat naik kelas. Untuk itu, orang tua murid tersebut pun bersedia memberi "kebijaksanaan" kepada kepala sekolah itu.

Dalam skala yang lebih besar, barangkali bisa dicontohkan pada berbagai 'kebijakan-kebijakan' yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat, namun cenderung pro pada kepentingan kapitalis.

Untuk mengakomodasi kepentingan kapitalis yang hadir melalui para investor pertambangan semen misalnya, pemerintah mengeluarkan 'kebijaksanaan' relokasi kampung, jika tak mau dikatakan menggusur komunitas sosiokultural yang sejak lama berdiri di atas lahan eksploitasi. "Kebijaksanaan"  membuat segolongan manusia kehilangan kampung dan tercerabut dari akar budayanya. Kontradiksi bukan?

Nasib kata "kebijaksanaan"  tak jauh beda dengan nomina "birokrasi". Kata ini memiliki denotasi positif, yaitu sistem tata kelola pemerintahan hierarkial demi terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance). Namun suka atau tidak, kata ini kemudian mendapatkan konotasi negatif akibat buruknya sikap dan kualitas pelayanan birokrat-birokrat.  Tak jarang, untuk mengurus surat-surat di kantor pemerintah kita pun sering diminta memberi "kebijaksanaan" oleh oknum petugas. Jika tidak diberi, urusan kita bakal mandek. Sering pula kita temukan masyarakat yang meminta "kebijaksanaan" agar urusan surat-suratnya diselesaikan tanpa mengikuti prosedur yang berlaku umum.

Nomina "pengertian" adalah kata yang akhir-akhir ini turut mengalami degradasi nilai rasa sebagai akibat sikap negatif penuturnya. Misalnya tampak pada tututan, "Untuk mengurus berkas itu tidak dipungut biaya apapun, hanya dimohon pengertian Anda". Tuturan ini sering kita dengar jika sedang berada di kantor-kantor pemerintah saat mengurus berkas-berkas penting. Munculnya penggunaan kata "pengertian" dalam konteks ini, agaknya sebagai substitusi bagi kata "kebijaksanaan".

Degradasi moral masyarakat penutur turut berpengaruh pada merosotnya nilai rasa bahasa. Tak berlebihan kiranya, jika dikatakan bahwa ulah masyarakat yang menggunakan kata atau istilah yang tidak sesuai dengan makna dasarnya merupakan 'detonator denotasi'.


                           ☕☕☕



(Ame'd Ibell)

Senin, 08 Juni 2020

AMANTES SUNT AMENTES

Sekali waktu, Lolus dan Mikus terjebak hujan dalam perjalanan pulang. Saat itu hujan turun dengan lebat-lebatnya.

Hujuan yang  terus mengguyur dengan derasnya, memaksa kedua sahabat itu menepi. Untung saja, di sisi jalan yang mereka lalui, ada sebuah  minimarket yang area parkirnya ditutupi canopi.

"Oew, mekas. Asi one minimarket hio cekoen ew. Kesep lena usang." (kita berhenti sejenak di ruko itu, sembari menunggu hujan redah) kata Mikus, sambil memukul pundak Lolus yang sedang mengendarai sepeda motor.

Kedua sahabat itu pun menepi dan berteduh di depan minimarket tersebut. Sementara itu, hujan yang turun tampak belum akan segera meredah.

Tak jauh dari tempat mereka berteduh, terdapat sebuah warung kopi. Warung kopi itu tampak ramai dikunjungi orang-orang yang terjebak hujan.

"Kus, manga warkop hio sina ew.  Asa, com lau hitu kat iling usang hoo?" (Kus, di sana ada warung kopi. Bagaimana kalau sementara kita berteduh di sana) kata Lolus pada Mikus, sambil menunjuk ke arah warung kopi tersebut.

"Ayo ga. Nehot naisn toong usang hoo ew, mekas" jawab Mikus. (Ayo, sepertinya hujan ini bakal lama redahnya).

                           ☕☕☕

"Bu, kopi hitam dua ya!" Lolus memesan kopi".

Tak lama berselang, kopi pesanan mereka pun tiba. Setelah seruput pertama, Mikus tetiba bertanya.

"Kita sering mendengar orang mengatakan, bahwa cinta itu gila. Apakah benar seperti itu?"

Pertanyaan itu seolah-olah mesin waktu yang membawa Lolus kembali ke masa SMA, ketika masih belajar bahasa Latin. Seketika itu juga, kognisi Lolus menampilkan memori tentang salah satu proverbia (ungkapan) Latin yang pernah dipelajarinya. "Amantes sunt amentes" (Orang yang sedang jatuh cinta tampak gila), begitu bunyinya. Ingatan itu membuat Lolus senyum sumringah.

Melihat reaksi Lolus, Mikus pun bertanya; 
"Ole, mekas co tara imus ite ge?" Manga ata lucun rei daku ko?" (mengapa kau senyum-senyum? Ada yang lucu dengan pertanyaanku).

"Begini kawan, setiap kali saya mendengar orang mengatakan, 'Cinta Memang Gila' kognisi saya langsung menampilkan sesuatu yang membuat saya tersenyum lucu."

Merasa belum terpuaskan rasa penasarannya, Tokuk, begitu Mikus biasa disapa berkata dalam dialek timur; "Kau kasi tau dulu ka teman, sa traktir lagi kau kopi hitam".

Pernyataan itu membuat Lolus tersenyum kembali. Rupanya Mikus memahami gaya pragmatisme komunikasi sahabatnya itu.

"Oke kalau kau memaksa. Kau pesan su kopinya" dengan cepat Lolus merespon tawaran Mikus. 

                                   ☕☕☕

"Amantes sunt amentes" Lolus mengawali 'joaknya'.

"Hae, apa lagi tu? Itu bukan maki saya to?" respon Mikus, mendengar ungkapan Latin itu.

"Saya tidak maki kau. Itu ungkapan Latin yang artinya: Orang yang sedang jatuh cinta tampak gila." jawab Lolus

"Makna ungkapan itu adalah, ketika jatuh cinta, bukan cinta yang gila, tetapi para pelaku atau orangnya yang tampak slep." Lanjut Lolus

"Hae, begitu lagi ka mekas?" tanya Mikus.

"Ia ew. Sebab, kalau cinta itu gila, maka jatuh cinta adalah jatuh sakit" jawab Lolus sambil menyerupu kopinya.


☕☕☕


(Ame'd Ibell)


Sabtu, 06 Juni 2020

MEDIS DAN PEJUANG KESEHATAN AVENGERS KITA: NARASI INTERTEKSTUALITAS

Sebuah narasi tidak berdiri sendiri. Sebagai sebuah teks, narasi selalu berkaitan dengan teks lain. Ini disebut intertekstualitas. Sebagai sebuah diskursus, semua teks pada dasarnya bersifat dialogis, begitu kata Michail Bachtin.

Kita tidak hidup dalam sebuah ruang hampa kebudayaan. Ketika melihat suatu peristiwa, kita tidak hanya berhadapan dengan peristiwa yang hadir di hadapan kita. Kita juga berhadapan dengan teks-teks lain. Teks tersebut bisa berupa peristiwa-peristiwa serupa di masa lampau, film, karya sastra, cerita rakyat, dan lain-lain.

Ketika menceritakan mengenai anak durhaka dan tidak berbakti kepada orang lain, kita mungkin akan mengutip "Malin Kundang". Ketika seorang gadis menceritakan tentang kisah cinta yang 'kandas' di belis dan tidak direstui orang tua, ia mungkin akan menarasikannya seperti "Siti Nurbaya". Begitu pula jika ada narasi tentang pemerintah yang licik, orang Manggarai tentu akan menggunakan tokoh dongeng "Pondik".

Umumnya bentuk-bentuk komunikasi intertekstualitas dibuat dengan strategi peniruan (mimikri). Suatu teks (peristiwa) mengambil teks (peristiwa) lain sebagai referensi intertekstualitasnya. Teks rujukan itu bisa berbentuk film, cerita rakyat, novel, puisi, dan sebagainya. Teks lain yang dipakai sebagai referensi intertekstualitas mempunyai implikasi makna tertentu, yaitu ke arah mana peristiwa komunikasi itu disajikan pada publik.

Covid-19 interteks
Covid-19 vs Avenger kesehatan
Relasi sebuah teks dengan teks lain akan membantu komunikator dan khalayak dalam mengenali peristiwa, sehingga peristiwa tersebut relevan dengan pengalaman publik. Itulah alasan mengapa intertekstualitas selalu muncul dalam praksis diskursus sosial kita. Ketika membicarakan kecepatan mengendarai sepeda motor para pegawai koperasi kredit harian, komunikator mungkin akan menggunakan Valentino Rossi atau nama pembalap Moto-GP beken lainnya sebagai referensi intertekstualitas.

Intertekstual sebenarnya adalah praktik yang sering kita hidupi sehari-hari. Ketika menggambarkan suatu peristiwa atau kondisi tertentu, kita kerap menggunakan cerita atau bahan referensi yang dikenal agar khalayak memahami maksud komunikasi. Demikian pula dengan konteks sosial komunikasi dalam situasi pandemi covid-19, saat ini.

Riak-riak komunikasi di tengah pandemi corona, tak luput dari praktik diskursus intertekstualitas. Salah satunya adalah, ihwal pertarungan para medis, perawat, dan pejuang kesehatan kemasyarakatan lainnya di garda depan melawan pandemi covid-19.

Dalam salah satu gambar yang ramai beredar di media sosial, pertarungan itu digambarkan dalam bentuk intertekstualitas antara wabah covid-19 yang menggunakan sarung tangan 'invinity gauntled' dengan seorang petugas medis yang digambarkan menggunakan sarung tangan 'invinity gauntled' versi para avenger, yang didesain Iron Man.

Dalam gambar tersebut, covid-19 diilustrasikan sedang menjentikan jari tangannya. Ini merupakan intertekstualitas aksi "Thanos Snap" dalam film "The Avenger: Invinity War". Fans garis keras film produksi Marvel Studios tentu tahu bagaimana dampak dari jentikan jari Thanos dalam balutan  'invinity gauntled'  itu. Tidak main-main, separuh dari populasi alam semesta sekejap menjadi debu dan menghilang. Hal ini tentu relevan dengan begitu banyak korban berjatuhan hampir di seluruh negara, akibat covid-19.

Sementara itu, di sudut bawah gambar tersebut ada sosok petugas medis yang diilustrasikan sedang menjentikan jari dengan 'invinity gauntled'. Ilustrasi tersebut merupakan bentuk intertekstualitas dari aksi Tony Stark (Iron Man) dalam film lanjutan dari Invinity Saga, "The Endgame". Dalam film tersebut, Thanos sebagai supervillain dapat dikalahkan. Thanos mati menjadi debu, akibat aksi "Iron Man Snap".

Berbeda dengan realitas di film, perang dunia terhadap covid-19 hingga kini masih berlanjut. Namun, intertekstualitas tersebut hendak melecut optimisme kita dan semangat para medis yang bertarung di garda depan. Merekalah avengers kita. Mereka sangat layak mendapat respek kita.



☕☕☕


(Ame'd Ibell)



Minggu, 31 Mei 2020

OM TOTE DAN DIALEKTIKA 'RUHA'

Aristoteles adalah salah seorang filosof Yunani klasik, yang namanya hingga kini dikenal banyak orang.  Bahkan orang yang tahu namanya,  lebih banyak dari teman pria di FB nona-nona cantik.  Kalau status Facebook seorang cewek 'di-like' oleh 1000 orang dari 999 teman,  maka orang yang mengenal nama Aristoteles, bahkan lebih dari itu.

Ah,  mungkin itu perbandingan yang kurang aple to aple.  Tapi,  sudahlah!  Ini efek kopi saya yang sudah mulai habis.


Ganda Ruha
'Nyeleneh' kritis



Semasa hidupnya, sang filosof kondang pernah mempertanyakan, mengapa bentuk telur itu bulat oval dengan ujung yang elips.  Pertanyaan tersebut terus mengusik rasa 'kekepoannya'. Namun sayang,  hingga beliau tutup usia,  pertanyaan tersebut masih belum terjawab.

Om Tote (Aristoteles), sebut saja begitu pernah mengungkapkan asumsinya ihwal bentuk telur. Jika anak burung berkelamin betina, maka ujung telur akan lebih tajam. Namun, asumsi Om Tote itu tak pernah menyelesaikan pertanyaan mengapa telur berbentuk seperti itu.

Penjelasan tradisional pun punya pemerian ihwal pertanyaan Om Tote itu. Penjelasan tradisional menyatakan, bahwa bentuk telur yang panjang dan oval berfungsi agar telur tidak terguling terlalu jauh dari sarangnya, atau memudahkan mencengkeram saat keluar dari kloaka burung.

Pertanyaan Om Tote itu, hingga kini masih dikaji secara ilmiah. Teranyar, penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari tujuh universitas internasional, termasuk Princeton University, Nanyang Technology University, dan University of Haifa.

Pertanyaan sederhana yang cukup menggelitik bagi Aristoteles dan juga para ilmuwan ini, akhirnya terjawab dalam penelitian itu. Dalam studi yang dipublikasikan melalui jurnal "Science", tim peneliti internasional mengungkapkan alasan mengapa telur berbentuk oval dan meruncing. Itu diungkapkan setelah menganalisisa puluhan ribu bentuk telur yang mewakilli beragam burung. Mereka menggunakan database dari 49.175 foto telur yang mencakup 1400 spesies burung hidup dan yang sudah punah.

Berbeda dengan hipotesis klasik, kajian tersebut menemukan bahwa kemampuan terbang bisa mempengaruhi bentuk telur burung. Burung yang punya kemampuan terbang baik, cenderung punya bentuk telur asimetris atau lebih elips.

Pertanyaan Om Tote tersebut di atas, tampak sangat sederhana. Sesederhana para pria menyentuh tombol like di setiap status facebook para wanita cantik. Pertanyaan sederhana yang dilontarkan Aristoteles tersebut,  membuat orang melabelinya sebagai 'orang yang kurang kerjaan'.

Pertanyaan itu memang sederhana, datang dari fakta keseharian yang sederhana. Namun, pertanyaan itu tidak dapat dilontarkan kepada orang yang 'sederhana'.

Apa sebenarnya yang dapat dipelajari dari pertanyan sederhana Arisoteles itu?  Semua ilmu pengetahuan dan teknologi manusia saat ini merupakan manifestasi proses evolusi dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu. 

Om Tote dengan pertanyaan 'nyeleneh' itu, telah menggerakan semangat saintifik dan menyalakan pikiran kritis. Jawaban atas pertanyaan itu menuntut elaborasi saintifik dan berbagai studi pustaka terkait.

Aristoteles sempat dianggap gila, karena melontarkan pertanyaan bentuk telur tersebut. Namun, jika mau jujur pertanyaan itu merupakan semiotika kritik tajam yang relevan dengan konteks dunia pendidikan, terutama bagi para guru di era kita, hari ini. Tak sedikit guru-guru kita hari ini, yang masih membuat soal ujian dengan redaksi yang membutuhkan jawaban yang cenderung leterlek. Misalnya, "alat pernafasan ikan adalah?".

Aristoteles dan pertanyaan 'gila' ihwal bentu telur, hendak menyentil guru-guru kita, agar hijrah dari level hafalan menuju pertanyaan yang merangsang nalar kritis anak. Dengan begitu, diharapkan akan muncul pertanyaan 'nyeleneh' tapi kritis, misalnya "mengapa ikan tidak bisa panjat pohon seperti monyet". Pertanyaan ini tentu akan menggembleng anak-anak pada semangat literasi. Anak-anak akan membedah referensi ihwal teori-teori evolusi melalui telaah pustaka untuk menjawabnya.

Hal lain yang dapat kita pelajari dari pertanyaan 'nyeleneh' ala Om Tote itu adalah jangan menyepelehkan hal-hal sederhana di sekitar kita.  Seperti telur Anda, misalnya. Eits, jangan secara sederhana berpikir 'ngeres'!

Orang hebat seperti Aristoteles,  melihat segala sesuatu yang sederhana, dengan cara berpikir yang luar biasa. Sementara orang biasa,  melihat segala sesuatu dengan cara berpikir yang 'sederhana'. 

Orang hebat, dapat membuat hal sepele menjadi luar biasa. Sedangkan orang 'sederhana', membuat sesuatu yang luar biasa menjadi hal sepele. Itu yang mungkin dapat kita pelajari dari rasa 'Kepo' luar biasa Om Tote (Aristoteles) tentang bentuk telur, yang tak jelas itu punya siapa. 

Anda bisa menambahkan makna lain yang dapat dipelajari dari pertanyaan 'konyol' Om Tote itu. Namun, satu hal penting yang perlu diingat, jangan tanyakan itu pada "telur yang defisit nalar". Sebab, dengan mudah dan cepat ia akan berpikir Anda gila.


☕☕☕


(Ame'd Ibell)

Senin, 25 Mei 2020

'TATAPAN MEDUSA' DALAM PERMAINAN ANAK: SIAPA MAU HELP?

Manusia dan kebudayaan mengalami perubahan sesuai tahapan-tahapan tertentu, dari bentuk yang sederhana menuju bentuk yang lebih kompleks. Begitu kata Herbert Spencer dalam "Unlinear Theories of Evolution".

Pernyataan Herbert Spencer tersebut, dapat diamati pada eksistensi permainan tradisional. Dulu, permainan tradisional ini dijadikan permainan sehari-hari. Namun, kini tidak lagi. Anak-anak zaman ini lebih mengenal permain modern. Permainan Tradisional semakin hari semakin hilang dilindas dominasi perkembangan zaman.

Permainan tradisional
Permainan anak mo punah, sapa mo help?

Jean Piaget, bapak pembelajaran kognitivisme menyebutkan, bahwa permainan membentuk konsep keterampilan dan membentuk kognisi anak, serta mengembangkan kognisi tersebut. Relevan dengan itu, Mayke (2001:7-9) meyatakan, bahwa permainan tradisional dapat mengembangkan aspek motorik anak-anak, sehingga pertumbuhan fisik pun menjadi maksimal.

Permainan tradisional, sesungguhnya menyimpan keunikan, kesenian dan manfaat yang lebih besar, bila dikomparasikan secara head-tohead dengan permainan modern ala generasi 'android-console'. Manfaat tersebut seperti, kerja sama tim, olahraga, dan terkadang juga membantu meningkatkan daya otak (kognisi). Ketiga manfaat tersebut, adalah sebagai berikut.

Pertama, kerja sama tim (timework). Ini merupakan aspek sosial dari permainan tradisional. Generasi 'sontak' tentu tahu, bahwa semua jenis permainan ini tidak dapat dimainkan sendiri tanpa teman lain yang biasa menjadi anggota bermain. Karenanya, permainan ini, hampir tak memberikan celah bagi tumbuhnya individualisme.

Kedua, aspek manfaat sanitas. Disadari atau tidak, umumnya, permainan tradisional merupakan media olahraga fisik dan mental. Permainan ini cenderung dinamis dan sangat mengandalkan anggota gerak tubuh (berlari, jongkok, lompat, tiarap, menarik, mendorong, dll). Sportivitas sosial, dibentuk di sini. Kelompok yang kalah mengakui kekalahannya, dan kelompok pemenang tidak jumawa berlebihan demi menjaga iklim persahabatan merupakan wujud olahraga mental.

Ketiga, aspek edukatif dari manfaat permainan tradisional. Kemenangan kolektif adalah tujuan akhir dari permaian tradisional yang dimainkan. Kemenangan merupakan sebuah prestise dalam lingkungan sosial anak-anak tersebut. Untuk memenangkan permainan, kelompok bermain tertentu harus memiliki strategi bermain yang apik dan sistematis. Untuk itu, penyusunan strategi biasanya melibatkan seluruh anggota dalam kelompok bermain tersebut. Dengan begitu, kognisi dan mental demokrasi anak mulai terbentuk.

Berbeda dengan permainan 'kids jaman now' yang cenderung dilakukan dalam posisi duduk diam memainkan permainan dalam layar monitor dan sebagainya. Permainan yang cenderung statis membuat organ gerak anggota tubuh mereka cenderung tidak dimaksimalkan. Singkatnya, permainan ini membunuh 'sense of sport' anak-anak.

Suka atau tidak, permainan modern merupakan  lahan gambut bagi tumbuh kembangnya mentalitas individualis dan membentuk sikap apatisme dalam diri anak-anak yang bangga disebut 'kids zaman now'. Tidak ada pembelajaran sosial di sana, sebab ia berhadapan dengan mesin.

Tidak hanya itu, permainan modern juga merupakan 'tatapan medusa' bagi daya imajinasi anak-anak. Permaianan digital membuat imajinasi anak-anak seolah membatu.

Tidak demikian dengan permainan tradisional. Permainan ini memberikan ruang lebih bagi tumbuh kembangnya imajinasi dan fantasi anak. Beberapa permainan tradisional yang sering kami mainkan semasa kanak-kanak membantu kami berimajinasi dan berfantasi.

Bermain ban motor bekas, misalnya. Dengan permainan ini, anak-anak berimajinasi menjadi pembalap idolanya, sebut saja Valentino Rossi yang sedang berada dalam sirkuit dengan tekanan kompetisi. Kid Zaman Now tentu tidak akan dapat berimajinasi, sebab 'dibantu’ visualisasi game digital yang realistis dan konkret.

Ada juga permainan 'sontak'. Di daerah Manggarai lainnya, permainan ini disebut 'sunta'. Sontak adalah sejenis mainan senapan yang mengunakan buluh (bambu kecil) dan menggunakan kertas sebagai pelurunya. Seperti halnya senapan, sontak juga dapat mengeluarkan letupan suara tembakan. Dengan permaianan ini, kami berimajinasi menjadi sniper handal. Persis yang ada dalam game console Sniper Elite atau Ghost Warior.

Harus diakui, bahwa permainan tradisional mampu memberikan pengaruh yang positif bagi kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, agaknya tidak berlebihan jika dikatakan, adagium Latin "Mensana In Corpore Sano" lebih relevan dengan permainan tradisional.

                          ☕☕☕

Ngeng.. ngeng.. Hongkiong... sontak son!!!

Salam kopi mok ringking


#Ame'dIbell

Minggu, 24 Mei 2020

APA KABAR-MU HARI INI, TUHAN?


Hari ini adalah Minggu kesekian kalinya, umat beribadah dari rumah. Begitu pula dua sahabat, Mikus dan Lolus, anak indekos yang tinggal sekamar. Selesai berdoa, keduanya 'ngopi' pagi sambil berbincang-bincang.

                                      ☕☕☕

"Mekas, apa tombo dite agu Mori du ngaji bao ?"  tanya Mikus pada Lolus, penuh 'kepo' (apa yang tadi kamu minta pada Tuhan saat berdoa?)


"Ta bro, toe tegi bana ew. Co'o tegi gelang koe polin wabah corona, ho'o ta de". Jawab Lolus. (saya minta Tuhan supaya wabah corona segera berlalu, teman).

Lolus pun balik bertanya pada Mikus, ihwal apa yang dikatakannya dalam doa. Ia ingin tahu, apa yang dibicarakan sahabatnya itu dalam doa pada Tuhan.

"Tuhan, Apa kabar-Mu hari ini?" jawab Mikus, singkat, sembari menyalakan rokok.

Mendengar jawaban sahabatnya itu, Lolus tampak bingung. Itu tampak jelas dari kerutan dahinya yang persis bedeng sayur.

Melihat ekspresi kebingungan sahabatnya itu, Mikus pun menerangkan maksud jawabannya.

"Kawan, dalam doa tadi saya tidak minta apa-apa. Saya hanya menanyakan bagaimana kabar Tuhan hari ini."

Dari dahi turun ke mata. Ekspresi Lolus kini menampilkan pupil mata selebar ember mateks.

"Doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Namun, kita cenderung mereduksi makna doa, sekedar sebagai komunikasi pragmatis.  Acap kali yang muncul dalam doa-doa kita adalah draft panjang permintaan yang harus dikabulkan Tuhan. Hampir tak ada di antara kita umat beriman yang berbicara pada Tuhan, tanpa tendensi pragmatis. Sekedar tanya kabar Tuhan, misalnya." Mikus menambahkan penjelasannya.

Mendengar penjelasan itu, rahang Lolus sontak terbuka selebar bahu.

"Mekas, kalau doa bisa dikomunikasikan melalui platform WhatsApp, kita bisa mengawali pembicaraan dengan-Nya pakai "P" ka?" Tanya Lolus.

Mendengar pertanyaan itu, Mikus bergumam dalam hati, "Kalau su begini siapa mo help!"



                        ☕🇲🇨☕


#AmedIbell

Sabtu, 23 Mei 2020

TUKANG GOSIP: DEMAGOGNYA PARA DEMAGOG


Setiap narasi umumnya dibangun di atas fundasi dikotomi polaritas. Ada semacam kutub positif dan kutub negatif yang dipakai sebagai frame dasar dari sebuah konstruksi narasi.

Begitu pula pola narasi yang dibangun dalam komunikasi sosial yang 'defisit nalar', bernama gosip. Dalam dunia gosip, kelompok tertentu akan ditampilkan dengan frame negatif. Sementara penggosip dan kroni-kroninya, akan ditampilkan heroik melalui frame posiitf.

Tukang Gosip: Poti Kose
Gosip!

Dalam praktik dunia gosip, ada kecenderungan 8 dari 10 orang akan menempatkan Anda sebagai pengisi karakter 'antagonis bangsat' dalam setiap narasinya. Sementara itu, slot heroik akan diisi oleh pemilik narasi (penggosip). Diskursus inilah yang dalam terminologi kita disebut, "bumbu joak".

Mudah saja melihat bagaimana "bumbu joak" ini bekerja dalam skema dikotomi naratif. Anda hanya perlu memerhatikan siapa saja yang ada dalam kutub 'oknum heroik' dan siapa saja yang ada dalam kutub 'antagonis brengsek'. 

Mikus sahabat saya, memaralelkan gosip dengan istilah 'demagogi' dan para penggosip dengan istilah 'demagog'. Kedua istilah ini sering dipakai dalam konteks wacana politik. Dalam KBBI, terminologi demagogi dijelaskan sebagai "penghasutan terhadap orang banyak dengan kata-kata dusta untuk membangkitkan emosi rakyat". Sementara itu dalam KBBI istilah demagog dijelaskan sebagai, "(pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk memeroleh kekuasaan".

Apa yang dimaksudkan Mikus ini ada benarnya juga. Jika dalam politik agitasi demagogi dimaksudkan untuk memeroleh kekuasaan, maka begitu pun penggosip dan kroninya. Mereka berusaha merebut kekuasaan sebagai satu-satunya orang atau kelompok orang yang punya 'legitimasi' dan berhak menghakimi orang lain dengan memberi label negatif.

Goal akhir dari aktivitas diskursus dangkal seperti ini adalah mengangkat citra penggosip dan para kroni sebagai orang yang baik, bahkan tanpa cela sembari mendiskreditkan subjek tertentu. Para demagog (penggosip dan kroni), tentu tak akan rela kehilangan peran protagonis heroik dalam narasi yang dibangunnya sendiri.

Bagi saya, penggosip dan kroninya bahkan lebih hina dari para demagog. Penggosip adalah "demagognya para demagog". Jika demagog menyasar penguasa untuk merebut kekuasaan dengan diskursus agitatif, penggosip malah menyasar sesama masyarakat yang tak punya power, dan kebijakan apapun.  Tak berlebihan jika orang-orang ini disebut, "lebih demagog dari demagog".

Gosip adalah diskursus demagogi dalam versi 'radikal'. Penggosip dan kroni adalah demagog-demagognya. Anda tak perlu bermalam Jumat di pekuburan sekedar ingin melihat setan. Mereka berkamuflase di antara kita. Tak perlu terlahir dengan karunia "mata gerak" (indra keenam) untuk melihat makhluk-makhluk tersebut. Anda tentu pernah bertemu makhluk-makhluk ini, bukan?


☕☕☕


#Ame'd Ibell

Rabu, 20 Mei 2020

CANDA CORONA


Tak ada yang betul-betul menyepelehkan covid-19.  Banyak negara yang memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga yang lebih radikal, lockdown dalam menekan laju perkembangan pandemik ini. Itu sudah cukup menunjukkan betapa ngeri entitas satu ini.

Namun, di tengah situasi darurat seperti itu, ada situasi yang 'paradoksal'. Tak jarang ditemukkan respon sosial masyarakat Manggarai yang cenderung santai, alih-alih menjadikannya bahan lawakan. Berbagai pelesetan dijumpai. Virus Corona disebut virus "dorona". Ada pula yang memelesetkan Covid-19 menjadi "Cowik-19", dan masih banyak bentuk pelesetan lain.

Tak ketinggalan, kebijakan pemerintah dalam melandaikan kurva persebaran virus tersebut, turut dipelesetkan. PSBB yang kita tahu sebagai bentuk singkat dari Pembatasan Sosial Berskala Besar, dipelesetkan menjadi "Perpanjangan Saep Berskala Besar". Demikian pula 'lockdown' yang dipelesetkan menjadi "loakdehaun".

Realitas tersebut seolah-olah menunjukkan, bahwa pandemik menakutkan tersebut tak cukup menyeramkan bagi sebagian masyarakat Manggarai. Covid-19, seperti kehilangan 'marwah' sebagai salah satu pandemik mematikan.

Respon sosial paradoksal itu pun mendapatkan banyak komentar. Tak sedikit pula yang membuli dengan komentar bertendensi satir, bahkan sarkastis. Bagi orang-orang ini, hanya mereka yang 'dikaruniai' kedunguan hakiki yang berani mengajak maut bercanda.

Mencermati fenomena sosial tersebut, Lolus dan Mikus tak latah ikut arus. Kedua sahabat itu tidak menggunakan perspektif kognisi sosial dominan dalam mendekonstruksi sosial teks, di balik merebaknya pandemik ini. Bagi keduanya, respon paradoksal, bukanlah ekspresi kedunguan sebagaimana yang diklaim sebagian orang. 

Lolusan Mikus, lebih melihat itu sebagai bentuk lain dari konkretisasi konsep kecerdasan. Tepatnya, kecerdasan emosional segelintir orang Manggarai. Tentunya, guyonan itu dalam konteks ketaatan terhadap  berbagai imbauan pemerintah.

Segelintir orang yang 'didungukan' ini seakan paham, kekhawatiran dan kepanikan hanya akan menurunkan sistem imun. Itu kondisi ideal bagi covid-19 melancarkan serangannya. Pesan sosiopragmatis yang ingin disampaikan orang-orang ini yakni, kecemasan adalah respon dungu dan kontraproduktif. Namun, mereka yang membuli, terlalu 'cerdas' untuk melihat makna laten dari sosial teks tersebut.

                      ☕☕☕

"Selain itu, ekspresi guyon itu juga menunjukkan, bahwa masyarakat kita sudah pernah melalui masa yang lebih sulit daripada wabah corona. Tidak heran, kita meresponnya dengan guyonan." Celetuk Mikus.

"Apa itu?" tanya Lolus penasaran.
"Politisasi penderitaan rakyat dan janji politik yang tak kunjung direalisasikan". jawab Mikus.

☕🇲🇨☕

(Ame'd Ibell)

Selasa, 19 Mei 2020

POLITIK 'WEDAK TACIK'



Pada suatu kesempatan 'ganda pelitik' di kantin depan kampus, Mikus bertanya pada Lolus.

"Bro, bagaimana menurut kraeng geliat 'politikus' jelang Pilkada di Manggarai?" Tanya Mikus.

"Politisi itu hampir semuanya sama. Mereka berjanji membangun dermaga, meskipun sebenarnya tidak ada pantai di sana. Kecerdasan literasi politik menjadi penting bagi kita sebagai instrumen filtrasi berbagai konstruksi narasi politik seperti ini."  Lolus menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

"Politics is the art of all possibilities, kawan. Segala kemungkinan bisa terjadi dalam politik. Termasuk janji politis membangun dermaga, meskipun sebenarnya tidak ada pantai di sana", Mikus merespon jawaban Lolus.

"How's that gonna happen, bro? " Lolus pun tak mau kalah. Ia balik merespon sahabatnya dengan bahasa kolonial.

"Program 'wedak tacik'. Jika sudah dibangun, dermaga itu akan diberi nama Machiavelli international port", jawab Mikus singkat, sambil menyalakan kembali rokok sebatang, yang sejak sepekan lalu 'cicil' dihisapnya.


☕ 🇮🇩 ☕


(Ame'd Ibell)

GENERASI 'PSEUDOKRITIS'


Dulu, saat masih belajar di seminari menengah Yohanes Paulus II Labuan Bajo (SMA), guru mata pelajaran Retorika saya pernah berkata seperti ini:
"Banyak baca, banyak tahu. Sedikit membaca, sedikit tahu. Tidak membaca sama dengan?"

Kompak dan cepat kami menjawab, "Tidak tahu, Frater". Beliau tertawa mendengarkan jawaban kami itu. Menurutnya, kami terlalu polos mengartikan implikasi logis dari dua proposisi awal yang dibangunnya. Jawaban yang diharapkannya untuk melanjutkan dua premis itu adalah "Tidak Baca sama dengan Sok Tahu". Dengan begitu pernyataan itu menjadi, "banyak baca, banyak tahu; sedikit baca, sedikit tahu; tidak baca, ya sok tahu."

Kami semua tertawa dalam perasaan malu. Sebab, pernyataan itu juga ditujukkan pada kami. Kami terlalu prematur menyampaikan konklusi implikatif dari dua proposisi terdahulu, tanpa membaca berbagai konteks implikatur dan presuposisinya.

Apa yang kami pelajari hari itu, masih sangat relevan dengan konteks sosioliterasi pada era posttruth dan era digital, seperti hari ini. Penghuni era ini, terlalu berani dan prematur menangkap, serta merespon sebuah informasi, tanpa punya habitus membaca. Jangan ditanya, berapa koleksi buku yang mereka punya. Jika ada satu pun, mungkin tak habis dibaca. Apalagi melakukan penalaran "insigh" dengan substansi buku-buku lain, ah gelap. Bagi mereka, yang penting eksis, agar terlihat keren, meski pseudo-kritis.

Bangsa kita telah, sedang, dan akan berada dalam situasi krisis. Sebab, banyak generasinya yang ingin tampil kritis, namun krisis kebiasaan membaca. Tak heran, mereka kemudian muncul sebagai demagog-demagog.

                     ☕☕☕

"Sot model neho nggoo kole lebih bahaya onemai wirus corona, ew mekas?" Mikus tiba-tiba memotong pembicaraanku.

"Aewh, toe wirus corona ew, Kus. 'Wirus Cowik-19 ew." Celetuk Lolus.

☕🇲🇨☕

(Ame'd Ibell)






Minggu, 17 Mei 2020

GENERASI OLD SCHOOL LEBIH KEKINIAN


Pada umumnya, argumentasi dasar konsep hukuman (punishment) dalam praktik pendidikan adalah upaya sistematis untuk mendisiplinkan anak didik.


Pengertian disiplin di sini, dapat diartikan sebagai pemahaman ihwal konsep pedagogis dan praktik sosial yang sesuai dengan tata nilai tertentu yang dikehendaki. Upaya pendisiplinan itu kemudian secara singkat dilakukan dengan cara memberikan hukuman (punishment).

Hal ini secara teoretis dipengaruhi perspektif mazhab behaviorisme dalam psikologi belajar. Secara umum, paradigma mazhab kondang tersebut dapat dirumuskan dengan konsep stimulus-respon (S-R), stick and carrot, pengkondisian (conditioning), habituasi, dan sejenisnya dalam praktik pembelajaran.

Dalam perspektif behaviorisme, punishment adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh pendidik (guru) sesudah terjadi suatu pelanggaran, atau kesalahan. Hukuman juga dapat diartikan sebagai pemberian sesuatu yang tidak menyenangkan, karena seseorang tidak melakukan apa yang diharapkan, sebagaimana ada di dalam indikator kompetensi.

Pemberian hukuman akan membuat seseorang menjadi kapok dan tidak akan mengulangi yang serupa lagi. Punishment merupakan siksaan atas perilaku yang telah diperbuat (Echols,1992:456).
Dalam rekayasa pedogogis, tindakan reward dan punishment merupakan sebuah metode belajar yang dimaksudkan sebagai tindakan disiplin atau motivasi pada anak. Reward dan punishment ini dihubungkan dengan reinforcement yang diperkenalkan oleh psikolog Amerika, Edward Lee Thorndike (1898-1901).

Dalam jaringan rekayasa pedagogis, reward dan punishment merupakan upaya membuat anak untuk mau dan dapat belajar atas dorongan sendiri dalam mengembangkan bakat, pribadi dan potensi secara optimal. Sehingga pemberian reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) telah dijadikan sebagai strategi metode pendidikan dalam proses pembelajaran yang diharapkan anak didik berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Hukuman (punishment) juga dapat dikatakan sebagai penguat yang negatif, tetapi dalam pemberian hukuman harus diberikan secara tepat dan bijak sehingga dapat menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, pemberian hukuman tidak serta merta sebagai suatu tindakan balas dendam pendidik (guru) terhadap anak didiknya yang tidak bisa mencapai harapan yang diinginkan dalam indikator kompetensi.

Dalam hal ini pendidik (guru) harus memahami segala bentuk prinsip-prinsip pemberian hukuman sebagai sanksi kependidikan. Secara subtansi, reward dan punishment mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebagai reinforcement (penguatan) demi tercapainya kemandirian belajar anak.

Dengan demikian, anak dianggap akan paham dan mengerti, bahwa suatu hal itu salah kalau ia diberi hukuman (punishment), dan sebaliknya, akan paham suatu hal itu benar kalau ia diberi hadiah (reward). Begitulah pemahaman sederhana konsepsi behavioristik dalam praktik pembelajaran.

Reward dan punishment sebagai metode pembelajaran akan sangat ideal dan strategis bila digunakan sesuai dengan prinsip-prinsip belajar untuk merangsang belajar dalam kerangka mengembangkan potensi anak didik.

Pendidik (guru) hendaknya menguasai metode ini secara benar agar tidak berimplikasi buruk. Misalnya seorang pendidik menggunakan kekerasan dalam menegakkan kedisiplinan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang menjadikan anak trauma dan depresi.

Dalam sejarahnya, teori psikologi pembelajaran mengalami pergeseran paradigma. Teori psikologi pembelajaran berkembang ke arah psikologi kognitif dan kemudian mazhab humanistik.

Pada titik inilah, konsep hukuman (punishment) dalam praktik pendidikan dianggap kurang relevan, dan bahkan diangggap kontradiktif dengan hakikat pendidikan humanis. ketika pada masa dulu, hukuman itu diberikan dalam bentuk kekerasan fisik dan psikis.

Inilah titik epicentrum, di mana implementasi metode pembelajaran behavioristik dengan menerapkan hukum reward and punishment (S-R) cenderung didistorsi sebagai bentuk penganiayan para guru terhadap siswanya. Bertolak dari perspektif yang keliru itulah, kemudian digiring opini, bahwa mazhab behaviorisme tak lagi relevan denga pendidikan generasi 'zaman now'. Jika sudah begini, tidak heran kasus kekerasan orang tua murid terhadap guru semakin masiv.

Pada dasarnya, pendidikan sebagai kebutuhan hakiki manusia merupakan sesuatu yang kompleks. Berbagai permasalahan dalam pelaksanaan pendidikan harus dilihat dalam frame yang multiperspektif. Kesadaran ini harus dibangun dalam mainset orang tua murid dan para murid.

Dunia pendidikan kita terus mengalami perkembangan. Banyak metode pembelajaran baru yang bermunculan. Tak bisa dikatakan, bahwa kita hanya membutuhkan metode tertentu, dan menafikan metode lainnya.

Semua metode pendidikan itu baik. Tinggal saja bagaimana para guru dan praktisi pendidikan mampu memetahkan konteks kebutuhan peserta didik; dan mampu mendiagnosa situasi pembelajaran yang relevan dengan pilah-pilih metode pembelajaran.


☕☕☕


Salam kopi mok ringking

(Amed' Ibell)



JATUH CINTA VS BANGUN CINTA



"My heart is in my throat, begitu yang aku rasakan saat pertama berkenalan dengannya", sontak temanku memecahkan stagnannya situasi obrolan di warung kopi yang terhenti oleh asyiknya kesibukan memainkan jari pada perangkat telepon seluler kami masing-masing.

Sore itu aku dan temanku sedang menikmati pahitnya kopi yang memaniskan situasi di tengah guyuran hujan yang saat itu sudah membuat kami menghabiskan dua gelas kopi.

"Coo ite ew teman? (Kenapa teman?)", aku mulai meresponnya sambil mengarahkan tatapan padanya. "Ada yang bisa dibanting? Eh, maksudnya ada yang bisa dibantu?"

Dengan semangat, dia pun memulai curhatnya dengan dialek Manggarainya yang begitu kental dan cenderung memfosil. "Begini ka teman, saya ka sepertinya sedang ada rasa dengan seseorang ow."

"Ole, pau nai kraeng ko?" (Kamu jatuh cinta?) tanyaku dalam bahasa daerah (Manggarai) merespon pernyataannya.

"Ya, itu sudah ka teman" dengan logatnya yang kental ia mengonfirmasi pertanyaanku.

"Tapi teman, saya bingung juga e. Saya bingung bukan tentang saya 'tembak' dia atau tidak", lanjut kawanku ini.

"Apa lagi yang kau bingungkan kalau bukan masalah tembak-menembak?", tanyaku penasaran.

"Begini teman, kenapa situasi psikologis seperti yang sedang saya alami sekarang ini kita di Indonesia sebut dengan Jatuh Cinta ew?"

"Kenapa tidak 'bangun cinta' saja? Itu sepertinya lebih tepat dengan situasi seperti ini. Mungkin kalau cinta itu bermasalah, istilah Jatuh Cinta jadi lebih tepat dipakai", begitu kawanku memberi penjelasan.

Mendapat pertanyaan tersebut, saya mencoba sedikit oportunis dan pragmatis.

"Hem, kalau kau mau dengar pendapatku, pesan lagi satu gelas kopi, bagaimana? Biar enak muncul idenya".

"Bu, kopinya satu lagi ya?" tanpa tedeng aling, ia kembali memesan segelas kopi. Tak lama berselang, kopi pun datang.

"Begini teman, situasi seperti itu merupakan sesuatu yang manusiawi dan universal. Karena itu, setiap masyarakat dunia pasti memiliki terminologi tertentu sebagai konkretisasi konsep situasi yang sedang kau rasakan itu. Secara konvensional, kita di Indonesia menyebutnya dengan Jatuh Cinta."

"Falling in love, begitu pengguna bahasa Inggris menyebutnya".

"Orang Jerman, negara asal Mesut Ozil menyebutnya dengan verlieben".

"Orang Spanyol, negara asal David de Gea menyebutnya dengan enamórate".

"Orang Prancis, negara asal Paul Pogba, menyebutnya amoureux".

"Orang Belanda, negara asal Robin van Persie, menyebutnya verliefd".

"Orang Portugal, negara asal CR-7 menyebutnya apaixonada".

"Dan kita orang Manggarai menyebunya dengan pau nai".

"Kalau ditelusuri, istilah yang digunakan berbagai bahasa bangsa di dunia dalam menggambarkan konsep situasi seperti itu merujuk pada pola gabungan kata [jatuh] dan [cinta]".

"Mengapa harus 'jatuh cinta' dan 'bukan bangun cinta', begitu konsep pertanyaanmu?" Kembali ku bertanya mengonfirmasi kepadanya.

"Komposisi kata [jatuh] dan [cinta] dalam mendeskripsikan konsep situasi 'baper' seperti yang kau alami, tentu bukanlah sesuatu yang acidental. Itu adalah suatu konsensus linguistik yang final."

"Kalau memang orang Inggris sekonsep denganmu, maka sudah tentu situasi itu akan dikonkretisasikan dengan frasa 'Building in love', dan bukan falling in love".

"Adoh, mati sudah, ini istilah-istilah ini buat saya wc keras saja". Ia menyela pembicaraanku.

"Jadi begini teman, mengapa kata [cinta] disandingkan dengan kata [jatuh] untuk menggambarkan situasi yang sedang buat kau baper itu?"

"Jatuh itu gerak hempas yang tak disengajakan dan direncanakan. Kita tidak pernah tahu kapan, di mana, dan bagaimana kita jatuh."

"Dalam konteks ini, kita tidak pernah tahu, kapan di mana, bagaimana, dan dengan siapa kita jatuh cinta".

"Lalu bagaimana dengan istilah membangun cinta?" Ia kembali menyela penjelasanku.

"Ketika orang sudah jatuh cinta, maka yang perlu dibangun adalah kepercayaan, tanggung jawab, dan kebahagiaan."

                      ☕☕☕


Keasyikan beropini kopiku pun habis diembat sang empunya traktiran.


(Ame'd Ibell)