This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 12 Juni 2020

KUTUK PANOPTIK

Jangan membuat orang tua sakit hati, sebab Anda dapat tertimpa masalah. Anda bisa dikutuk. Jadi batu, misalnya. Setidaknya, itu yang mau disampaikan melalui diskursus naratif dalam dongeng "Malin Kundang", maupun dongeng "Si Tanggang"

Jika sedikit mau berpikir kritis, mari kita mendekonstruksi supremasi orang tua dalam diskursus naratif pada dongeng-dongeng tersebut. Apa perlunya kita berpikir kritis, dan mendekonstruksinya? Sederhana saja, agar kita tidak menerima diskursus hegemoni mitologis dalam dongeng tersebut, sebagai sesuatu yang dogmatis. Ada hegemoni panoptik dalam dongeng-dongeng tersebut.

Malin Kundang

Hegemoni selalu terakulasikan melalui pengetahuan, dan pengetahuan selalu punya efek kekuasaan, begitu kata Michael Foucault. Lebih lanjut, ia mengatakan setiap kekuasaan selalu berpretensi menghasilkan 'episteme' kebenaran tertentu, melalui wacana yang dikonstruksi. Tujuannya, tak lain untuk melanggengkan hegemoni. Dongeng adalah salah satu bentuk wacana tersebut.

Dongeng-dongeng tersebut mengambil kendali sistem pengetahuan dalam diri kita. Hegemoni senioritas yang ada dalam dongeng tersebut tidak bekerja represif dalam menutup celah alternatif berpikir kita. Cara berpikir kita dimapankan melalui normalisasi dan regulasi. 

Normalisasi dan regulasi episteme itu membuat kita sulit  menemukan wacana naratif (dongeng) yang mengisahkan orang tua yang dikutuk menjadi batu oleh anaknya. Hegemoni dalam dongeng tersebut 'memaksa' cara berpikir kita untuk patuh pada justifikasi pengetahuan, bahwa hanya orang tualah yang punya legitimasi mengutuk anak. Orang tua ”memalingkundangkan” anaknya adalah normal. Tidak normal jika anak ”membatukan” orang tua, meski orang tua durhaka pada anaknya. Kita 'dipaksa' tunduk di bawah episteme hegemoni diskursif seperti ini. Itu tidak dilakukan melalui aksi represif, melainkan secara normalisasi dan regulasi. Cara berpikir kita disetir agar menerima pengetahuan justifikatif dan tak berpikir dekonstruktif, tetapi nyaris tak terasa. 

Salah satu fungsi mitos adalah memenangkan pertarungan wacana, melanggengkan dan kemudian menjadi alat kontrol diskursus sosial yang efektif, dalam kehidupan masyarakat di mana mitos itu hidup. Dongeng adalah salah satu media bagi mitos dalam mengontrol perspektif dan sikap setiap individu dalam skemata kognisi sosial. Dongeng "Malin Kundang", misalnya. Narasi itu adalah alat untuk melanggengkan superioritas orang tua, sebagai entitas yang harus 'dihormati', 'dipatuhi'. Jika tidak, jadi batu mekas!

Mari kita dekonstruksi diskursus itu dengan nalar yang berbeda. Bagaimana jika orang tua yang justru mengecewakan hati anaknya? Dahulu, mungkin sulit diterima jika ditemukan orang tua semacam ini. Namun, paradigma kehidupan dunia sudah berubah. Kerasnya kehidupan, menjadikan hal itu mungkin. 

Dahulu, Malin Kundang dikutuk menjadi batu karena tak mengakui ibunya. Sekarang, tak jarang ditemukan orang tua yang menjadi "Malin Kundang" bagi anaknya. Tak sedikit ibu yang membuang atau mengaborsi anaknya menghiasi berbagai pemberitaan media, saat ini. Seharusnya, mereka juga dapat dikutuk menjadi batu oleh anak-anaknya! Namun, tampaknya tak ada diskursus seperti itu dalam konstelasi kebudayaan naratif kita.

Mitos dalam perspektif perang wacana, pada dasarnya bertujuan panoptik. Itu ditujukan untuk membuat kita tunduk pada supremasi orang tua. Mitos "Malin Kundang" terus menyoroti kita seperti lampu suar lapas. Itu membuat kita tidak mampu keluar dari untuk berpikir dekonstruktif, bahwa orang tua pun bisa menjadi "Malin Kundang" bagi anak-anaknya. Itulah panoptik.


☕☕☕


(Ame'd Ibell)

Rabu, 10 Juni 2020

KITA & BAHASA


DETONASI DENOTASI

Manusia adalah makhluk berbahasa (homo languens). Tanpa bahasa, manusia bukanlah manusia. Martin Heideger mengonfirmasi itu, dengan mengatakan, bahwa bahasa adalah rumah eksistensi. Ini relevan dengan eksistensi bahasa sebagai entitas  paling utama dalam filsafat postmodernisme.

kita dan bahasa
Dengan dan melalui bahasalah, manusia dapat dipahami. Bahasa merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat penuturnya.

Fenomena perkembangan teknologi, misalnya telah banyak berpengaruh pada bahasa. Bagi anak-anak Manggarai generasi 90-an yang melewati malam dengan 'lampu gas'  (petromak), tentu tak akan bingung bila mendengar istilah "spuer". Namun, tidak demikian halnya dengan anak-anak era digital seperti saat ini. Kata tersebut akan memunculkan 'polisi tidur' di dahi mereka. Mereka 'autobingung'.

Selain akibat yang telah disebutkan di atas, perubahan bahasa juga kerap kali diakibatkan perubahan sikap dan mental penuturnya. Dengan kata lain, bahasa adalah artefak yang merekam jejak degradasi moral manusia penggunanya.

Seringkali sebuah kata mengalami degradasi nilai rasa akibat sikap para anggota masyarakat tuturnya. Masyarakat cenderung memaksakan penggunaan kata untuk mengakomodasi berbagai ’kepentingannya’. Akibatnya, kata tidak lagi digunakan sesuai dengan makna denotasinya.

Positif dan negatifnya nilai rasa sebuah kata, kerap kali terjadi sebagai akibat digunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambangan. Jika referen kata itu digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif, maka akan bernilai positif;  dan jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang negatif akan bernilai rasa negatif.

Ada banyak contoh penggunaan bahasa sebagai evidensi pernyataan tersebut. Nilai rasa negatif menjadi sorotan, di sini.

Kata "kebijaksanaan", misalnya. Denotasi kata tersebut bersifat positif, yakni 'kelakuan atau tindakan arif dalam menghadapi suatu masalah'. Fenomena sosial di masyarakat kemudian menjadikan kata tersebut berkonotosi negatif. Seorang pengendara sepeda motor yang ditilang karena melanggar peraturan lalu lintas meminta "kebijaksanaan" dengan sejumlah duit kepada petugas, agar tidak diperkarakan.

Contoh lainnya, orang tua murid yang anaknya tidak naik kelas mendatangi kepala sekolah untuk meminta "kebijaksanaan", agar anaknya dapat naik kelas. Untuk itu, orang tua murid tersebut pun bersedia memberi "kebijaksanaan" kepada kepala sekolah itu.

Dalam skala yang lebih besar, barangkali bisa dicontohkan pada berbagai 'kebijakan-kebijakan' yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat, namun cenderung pro pada kepentingan kapitalis.

Untuk mengakomodasi kepentingan kapitalis yang hadir melalui para investor pertambangan semen misalnya, pemerintah mengeluarkan 'kebijaksanaan' relokasi kampung, jika tak mau dikatakan menggusur komunitas sosiokultural yang sejak lama berdiri di atas lahan eksploitasi. "Kebijaksanaan"  membuat segolongan manusia kehilangan kampung dan tercerabut dari akar budayanya. Kontradiksi bukan?

Nasib kata "kebijaksanaan"  tak jauh beda dengan nomina "birokrasi". Kata ini memiliki denotasi positif, yaitu sistem tata kelola pemerintahan hierarkial demi terwujudnya pemerintahan yang baik (good governance). Namun suka atau tidak, kata ini kemudian mendapatkan konotasi negatif akibat buruknya sikap dan kualitas pelayanan birokrat-birokrat.  Tak jarang, untuk mengurus surat-surat di kantor pemerintah kita pun sering diminta memberi "kebijaksanaan" oleh oknum petugas. Jika tidak diberi, urusan kita bakal mandek. Sering pula kita temukan masyarakat yang meminta "kebijaksanaan" agar urusan surat-suratnya diselesaikan tanpa mengikuti prosedur yang berlaku umum.

Nomina "pengertian" adalah kata yang akhir-akhir ini turut mengalami degradasi nilai rasa sebagai akibat sikap negatif penuturnya. Misalnya tampak pada tututan, "Untuk mengurus berkas itu tidak dipungut biaya apapun, hanya dimohon pengertian Anda". Tuturan ini sering kita dengar jika sedang berada di kantor-kantor pemerintah saat mengurus berkas-berkas penting. Munculnya penggunaan kata "pengertian" dalam konteks ini, agaknya sebagai substitusi bagi kata "kebijaksanaan".

Degradasi moral masyarakat penutur turut berpengaruh pada merosotnya nilai rasa bahasa. Tak berlebihan kiranya, jika dikatakan bahwa ulah masyarakat yang menggunakan kata atau istilah yang tidak sesuai dengan makna dasarnya merupakan 'detonator denotasi'.


                           ☕☕☕



(Ame'd Ibell)

Senin, 08 Juni 2020

AMANTES SUNT AMENTES

Sekali waktu, Lolus dan Mikus terjebak hujan dalam perjalanan pulang. Saat itu hujan turun dengan lebat-lebatnya.

Hujuan yang  terus mengguyur dengan derasnya, memaksa kedua sahabat itu menepi. Untung saja, di sisi jalan yang mereka lalui, ada sebuah  minimarket yang area parkirnya ditutupi canopi.

"Oew, mekas. Asi one minimarket hio cekoen ew. Kesep lena usang." (kita berhenti sejenak di ruko itu, sembari menunggu hujan redah) kata Mikus, sambil memukul pundak Lolus yang sedang mengendarai sepeda motor.

Kedua sahabat itu pun menepi dan berteduh di depan minimarket tersebut. Sementara itu, hujan yang turun tampak belum akan segera meredah.

Tak jauh dari tempat mereka berteduh, terdapat sebuah warung kopi. Warung kopi itu tampak ramai dikunjungi orang-orang yang terjebak hujan.

"Kus, manga warkop hio sina ew.  Asa, com lau hitu kat iling usang hoo?" (Kus, di sana ada warung kopi. Bagaimana kalau sementara kita berteduh di sana) kata Lolus pada Mikus, sambil menunjuk ke arah warung kopi tersebut.

"Ayo ga. Nehot naisn toong usang hoo ew, mekas" jawab Mikus. (Ayo, sepertinya hujan ini bakal lama redahnya).

                           ☕☕☕

"Bu, kopi hitam dua ya!" Lolus memesan kopi".

Tak lama berselang, kopi pesanan mereka pun tiba. Setelah seruput pertama, Mikus tetiba bertanya.

"Kita sering mendengar orang mengatakan, bahwa cinta itu gila. Apakah benar seperti itu?"

Pertanyaan itu seolah-olah mesin waktu yang membawa Lolus kembali ke masa SMA, ketika masih belajar bahasa Latin. Seketika itu juga, kognisi Lolus menampilkan memori tentang salah satu proverbia (ungkapan) Latin yang pernah dipelajarinya. "Amantes sunt amentes" (Orang yang sedang jatuh cinta tampak gila), begitu bunyinya. Ingatan itu membuat Lolus senyum sumringah.

Melihat reaksi Lolus, Mikus pun bertanya; 
"Ole, mekas co tara imus ite ge?" Manga ata lucun rei daku ko?" (mengapa kau senyum-senyum? Ada yang lucu dengan pertanyaanku).

"Begini kawan, setiap kali saya mendengar orang mengatakan, 'Cinta Memang Gila' kognisi saya langsung menampilkan sesuatu yang membuat saya tersenyum lucu."

Merasa belum terpuaskan rasa penasarannya, Tokuk, begitu Mikus biasa disapa berkata dalam dialek timur; "Kau kasi tau dulu ka teman, sa traktir lagi kau kopi hitam".

Pernyataan itu membuat Lolus tersenyum kembali. Rupanya Mikus memahami gaya pragmatisme komunikasi sahabatnya itu.

"Oke kalau kau memaksa. Kau pesan su kopinya" dengan cepat Lolus merespon tawaran Mikus. 

                                   ☕☕☕

"Amantes sunt amentes" Lolus mengawali 'joaknya'.

"Hae, apa lagi tu? Itu bukan maki saya to?" respon Mikus, mendengar ungkapan Latin itu.

"Saya tidak maki kau. Itu ungkapan Latin yang artinya: Orang yang sedang jatuh cinta tampak gila." jawab Lolus

"Makna ungkapan itu adalah, ketika jatuh cinta, bukan cinta yang gila, tetapi para pelaku atau orangnya yang tampak slep." Lanjut Lolus

"Hae, begitu lagi ka mekas?" tanya Mikus.

"Ia ew. Sebab, kalau cinta itu gila, maka jatuh cinta adalah jatuh sakit" jawab Lolus sambil menyerupu kopinya.


☕☕☕


(Ame'd Ibell)


Sabtu, 06 Juni 2020

MEDIS DAN PEJUANG KESEHATAN AVENGERS KITA: NARASI INTERTEKSTUALITAS

Sebuah narasi tidak berdiri sendiri. Sebagai sebuah teks, narasi selalu berkaitan dengan teks lain. Ini disebut intertekstualitas. Sebagai sebuah diskursus, semua teks pada dasarnya bersifat dialogis, begitu kata Michail Bachtin.

Kita tidak hidup dalam sebuah ruang hampa kebudayaan. Ketika melihat suatu peristiwa, kita tidak hanya berhadapan dengan peristiwa yang hadir di hadapan kita. Kita juga berhadapan dengan teks-teks lain. Teks tersebut bisa berupa peristiwa-peristiwa serupa di masa lampau, film, karya sastra, cerita rakyat, dan lain-lain.

Ketika menceritakan mengenai anak durhaka dan tidak berbakti kepada orang lain, kita mungkin akan mengutip "Malin Kundang". Ketika seorang gadis menceritakan tentang kisah cinta yang 'kandas' di belis dan tidak direstui orang tua, ia mungkin akan menarasikannya seperti "Siti Nurbaya". Begitu pula jika ada narasi tentang pemerintah yang licik, orang Manggarai tentu akan menggunakan tokoh dongeng "Pondik".

Umumnya bentuk-bentuk komunikasi intertekstualitas dibuat dengan strategi peniruan (mimikri). Suatu teks (peristiwa) mengambil teks (peristiwa) lain sebagai referensi intertekstualitasnya. Teks rujukan itu bisa berbentuk film, cerita rakyat, novel, puisi, dan sebagainya. Teks lain yang dipakai sebagai referensi intertekstualitas mempunyai implikasi makna tertentu, yaitu ke arah mana peristiwa komunikasi itu disajikan pada publik.

Covid-19 interteks
Covid-19 vs Avenger kesehatan
Relasi sebuah teks dengan teks lain akan membantu komunikator dan khalayak dalam mengenali peristiwa, sehingga peristiwa tersebut relevan dengan pengalaman publik. Itulah alasan mengapa intertekstualitas selalu muncul dalam praksis diskursus sosial kita. Ketika membicarakan kecepatan mengendarai sepeda motor para pegawai koperasi kredit harian, komunikator mungkin akan menggunakan Valentino Rossi atau nama pembalap Moto-GP beken lainnya sebagai referensi intertekstualitas.

Intertekstual sebenarnya adalah praktik yang sering kita hidupi sehari-hari. Ketika menggambarkan suatu peristiwa atau kondisi tertentu, kita kerap menggunakan cerita atau bahan referensi yang dikenal agar khalayak memahami maksud komunikasi. Demikian pula dengan konteks sosial komunikasi dalam situasi pandemi covid-19, saat ini.

Riak-riak komunikasi di tengah pandemi corona, tak luput dari praktik diskursus intertekstualitas. Salah satunya adalah, ihwal pertarungan para medis, perawat, dan pejuang kesehatan kemasyarakatan lainnya di garda depan melawan pandemi covid-19.

Dalam salah satu gambar yang ramai beredar di media sosial, pertarungan itu digambarkan dalam bentuk intertekstualitas antara wabah covid-19 yang menggunakan sarung tangan 'invinity gauntled' dengan seorang petugas medis yang digambarkan menggunakan sarung tangan 'invinity gauntled' versi para avenger, yang didesain Iron Man.

Dalam gambar tersebut, covid-19 diilustrasikan sedang menjentikan jari tangannya. Ini merupakan intertekstualitas aksi "Thanos Snap" dalam film "The Avenger: Invinity War". Fans garis keras film produksi Marvel Studios tentu tahu bagaimana dampak dari jentikan jari Thanos dalam balutan  'invinity gauntled'  itu. Tidak main-main, separuh dari populasi alam semesta sekejap menjadi debu dan menghilang. Hal ini tentu relevan dengan begitu banyak korban berjatuhan hampir di seluruh negara, akibat covid-19.

Sementara itu, di sudut bawah gambar tersebut ada sosok petugas medis yang diilustrasikan sedang menjentikan jari dengan 'invinity gauntled'. Ilustrasi tersebut merupakan bentuk intertekstualitas dari aksi Tony Stark (Iron Man) dalam film lanjutan dari Invinity Saga, "The Endgame". Dalam film tersebut, Thanos sebagai supervillain dapat dikalahkan. Thanos mati menjadi debu, akibat aksi "Iron Man Snap".

Berbeda dengan realitas di film, perang dunia terhadap covid-19 hingga kini masih berlanjut. Namun, intertekstualitas tersebut hendak melecut optimisme kita dan semangat para medis yang bertarung di garda depan. Merekalah avengers kita. Mereka sangat layak mendapat respek kita.



☕☕☕


(Ame'd Ibell)