Tak terasa, Minggu telah kembali, setelah enam hari pergi. Tidak seperti biasanya, pagi itu Lolus dan Mikus memilih untuk tak mengunjungi rumah Tuhan. Kedua sahabat itu lebih memilih mencuci pakaian sembari memenuhi tong-tong dengan air. Kebocoran pipa PDAM yang memuncratkan air gratis di belakang rumah indekost, seolah menjadi oase berkah yang terlalu seksi dibiarkan.
Bagi kedua sahabat itu, air yang keluar dari pipa bocor adalah berkat yang menghampiri mereka, tanpa harus berlutut memintanya dahulu ke gereja. 'Berkat' itu lantas membuat mereka begitu bersemangat mencuci semua tumpukan pakaian kotor yang sepekan belakangan telah 'meng-Golgota'. Tak hanya itu, keduanya membagi 'berkat' itu dengan makhluk Tuhan lain, seperti bunga, rumput, beberapa pohon kelor, dan beberapa tumbuhan lain yang tumbuh di sekitar rumah indekos.
![]() |
| Mendatangi 'rumah Tuhan' atau Berjumpa Tuhan? |
Melihat kedua sahabat yang sedang asyik menikmati air dengan 'mode gratis' itu, seorang warga berpakaian rapi berkata, "oew nana, siapkan tong air yang banyak dengan ukuran jumbo".
"Aeh, ini saja tong air yang kami punya. Kenapa, Om?" tanya Mikus.
"Di neraka tidak ada sumber air ew!" jawab warga tersebut, diiringi gelak tawa beberapa warga lainnya. Tampaknya, warga tersebut baru saja mengikuti ibadah Minggu di gereja.
Selepas kepergian para warga tersebut, Mikus bertanya pada Lolus, "Yang itu Om omong tadi, maksudnya apa ew, mekas?"
"Aeh, kita ngobrol di kos saja sambil ngopi. Cucian su beres ni ew, bro." jawab Lolus.
☕☕☕
Diakui atau tidak, persepsi manusia tentang Tuhan berbeda-beda. Itu kenyataan tak terbantahkan.
Hal itu tampak dalam fakta, bahwa tak sedikit di antara kita yang lebih takut akan dosa dan neraka, daripada Tuhan itu sendiri. Tidak mengherankan jika persepsi ini memunculkan golongan orang yang menganggap diri telah berhak atas "kapling surga", hanya karena telah melakukan pertobatan atas dosa-dosanya.
Orang-orang itu tidak akan sungkan dan begitu mudahnya mengudeta wilayah prerogatif Tuhan. Jika mengkudeta wilayah prerogatif Tuhan saja dilakukan tanpa sungkan, maka mereka pun tak akan malu mengklaim diri sebagai "yang maha benar".
Merasa paling benar, menganggap orang lain pendosa, lalu berhak menerakakannya. Semua itu berembrio pada cara manusia saat ini memandang Tuhan.
Tabe Minggu, rakat!
☕☕☕
#AmedIbell
#Lolus







