Dulu, saat masih belajar di seminari menengah Yohanes Paulus II Labuan Bajo (SMA), guru mata pelajaran Retorika saya pernah berkata seperti ini:
"Banyak baca, banyak tahu. Sedikit membaca, sedikit tahu. Tidak membaca sama dengan?"
Kompak dan cepat kami menjawab, "Tidak tahu, Frater". Beliau tertawa mendengarkan jawaban kami itu. Menurutnya, kami terlalu polos mengartikan implikasi logis dari dua proposisi awal yang dibangunnya. Jawaban yang diharapkannya untuk melanjutkan dua premis itu adalah "Tidak Baca sama dengan Sok Tahu". Dengan begitu pernyataan itu menjadi, "banyak baca, banyak tahu; sedikit baca, sedikit tahu; tidak baca, ya sok tahu."
Kami semua tertawa dalam perasaan malu. Sebab, pernyataan itu juga ditujukkan pada kami. Kami terlalu prematur menyampaikan konklusi implikatif dari dua proposisi terdahulu, tanpa membaca berbagai konteks implikatur dan presuposisinya.
Apa yang kami pelajari hari itu, masih sangat relevan dengan konteks sosioliterasi pada era posttruth dan era digital, seperti hari ini. Penghuni era ini, terlalu berani dan prematur menangkap, serta merespon sebuah informasi, tanpa punya habitus membaca. Jangan ditanya, berapa koleksi buku yang mereka punya. Jika ada satu pun, mungkin tak habis dibaca. Apalagi melakukan penalaran "insigh" dengan substansi buku-buku lain, ah gelap. Bagi mereka, yang penting eksis, agar terlihat keren, meski pseudo-kritis.
Bangsa kita telah, sedang, dan akan berada dalam situasi krisis. Sebab, banyak generasinya yang ingin tampil kritis, namun krisis kebiasaan membaca. Tak heran, mereka kemudian muncul sebagai demagog-demagog.
☕☕☕
"Sot model neho nggoo kole lebih bahaya onemai wirus corona, ew mekas?" Mikus tiba-tiba memotong pembicaraanku.
"Aewh, toe wirus corona ew, Kus. 'Wirus Cowik-19 ew." Celetuk Lolus.
☕🇲🇨☕
(Ame'd Ibell)








Wirus Kowik-19 😆😆😆😆
BalasHapus