Jumat, 15 Mei 2020

KITA KELEDAI, KELEDAI BUKAN KITA


Semua tahu, Yesus menunggangi seekor keledai saat memasuki kota Yerusalem, jelang paska Yahudi. Peristiwa ini, kemudian kita peringati sebagai "Minggu Palma". Namun, tak banyak yang tahu mengapa harus keledai yang dipakai, bukan kuda yang ukurannya jauh lebih besar, bertenaga, dan tampak lebih agung.
"Jadi nggoo ew, ase kaen." Lolus mulai menjelaskan, sambil menyeruput kopi.
Pertama, untuk menggenapi nubuat Nabi Zakharia di Perjanjian Lama. "Lihat, Rajamu datang kepadamu; Ia adil dan jaya; Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai" (Zakharia, 9:9).
Kedua, sebagai raja Yesus berbeda dengan raja-raja besar, seperti Alexander Agung. "Alexander the Great" menunggang kuda perang, dengan segala kemegahannya, dan niat untuk berperang.
Ketiga, Raja Salomo, dulunya juga menunggangi keledai yang dimiliki Raja Daud. Ini terjadi ketika ia menuju penobatannya menjadi raja bani Israel.
Dari semua koherensi narasi biblical tersebut, ada sebuah ruang dialektika, untuk diinterpretasi secara hermeneutis. Semiotika narasi tekstual yang ingin disampaikan Alkitab adalah, bahwa dengan menunggangi keledai, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Anak Daud, dan sebagai Raja Israel.
Kala itu, keledai adalah hewan pembawa beban. Ini sama seperti Yesus, yang membawa beban dosa kita melalui rangkaian peristiwa penyaliban. Dalam konteks ini, keberadaan keledai adalah piranti semiotika yang menjadi wadah metaforal misi perutusan Yesus.
Kita semua tahu, keledai selalu dikonotasikan negatif. Hewan bernama Latin "equus asinus" ini, kerap dipakai melambangkan kebodohan. Namun, jika Anda memahami sejarah peradaban manusia, maka Anda paham mengapa Yesus memilih keledai sebagai instrumen semiotik perutusan dan pewartaannya.
Lewat temuan baru peneliti dari Universitas Bar-Ilan Israel pada 2013, terungkap kedelai digunakan lebih dulu sebagai alat transportasi jauh sebelum kuda dijinakkan dan menggantikan posisinya. Sebagai sarana transportasi, hewan ini telah ambil bagian dalam kehidupan politik, sosiokultural, dan ekonomi dari banyak negara, kala itu.
Tak hanya sebagai sarana transportasi, pada masa itu, keledai juga adalah sarana komunikasi. Ini terjadi melalui aktivitas perjalanan perdagangan lintas negara. Perpindahan itu memungkinkan adanya pertukaran informasi dan kontak sosiokultural antarwilayah. Dalam hal itu, keledailah jembatannya. Keledai kala itu, seperti 'prototipe' teknologi digital dengan layanan 4G, seperti saat ini.
Keledai bukan saja hewan pengangkut beban, yang kemudian menjadi piranti semiotika Yesus memikul dosa manusia. Keledai juga adalah metafora misi perutusan dan penyebaran informasi dan kabar keselamatan yang dibawa Yesus bagi segala bangsa.
Sampai pada titik ini, saya kagumi sosok Yesus. Dia adalah ahlinya semiotika komunikasi. Ia mendekonstruksi kembali pemahaman saya tentang keledai sebagai simbol kebodohan.



"Mekas, apa iw bahasa Manggarain keledai?" Celetuk Mikus.

Mendengar pertanyaan Mikus, Lolus berpikir keras. Ia tampak mulai melahap setiap helai daun palma yang baru dibawanya sepulang gereja.

🇲🇨

0 Comments:

Posting Komentar