Minggu, 24 Mei 2020

APA KABAR-MU HARI INI, TUHAN?


Hari ini adalah Minggu kesekian kalinya, umat beribadah dari rumah. Begitu pula dua sahabat, Mikus dan Lolus, anak indekos yang tinggal sekamar. Selesai berdoa, keduanya 'ngopi' pagi sambil berbincang-bincang.

                                      ☕☕☕

"Mekas, apa tombo dite agu Mori du ngaji bao ?"  tanya Mikus pada Lolus, penuh 'kepo' (apa yang tadi kamu minta pada Tuhan saat berdoa?)


"Ta bro, toe tegi bana ew. Co'o tegi gelang koe polin wabah corona, ho'o ta de". Jawab Lolus. (saya minta Tuhan supaya wabah corona segera berlalu, teman).

Lolus pun balik bertanya pada Mikus, ihwal apa yang dikatakannya dalam doa. Ia ingin tahu, apa yang dibicarakan sahabatnya itu dalam doa pada Tuhan.

"Tuhan, Apa kabar-Mu hari ini?" jawab Mikus, singkat, sembari menyalakan rokok.

Mendengar jawaban sahabatnya itu, Lolus tampak bingung. Itu tampak jelas dari kerutan dahinya yang persis bedeng sayur.

Melihat ekspresi kebingungan sahabatnya itu, Mikus pun menerangkan maksud jawabannya.

"Kawan, dalam doa tadi saya tidak minta apa-apa. Saya hanya menanyakan bagaimana kabar Tuhan hari ini."

Dari dahi turun ke mata. Ekspresi Lolus kini menampilkan pupil mata selebar ember mateks.

"Doa adalah cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Namun, kita cenderung mereduksi makna doa, sekedar sebagai komunikasi pragmatis.  Acap kali yang muncul dalam doa-doa kita adalah draft panjang permintaan yang harus dikabulkan Tuhan. Hampir tak ada di antara kita umat beriman yang berbicara pada Tuhan, tanpa tendensi pragmatis. Sekedar tanya kabar Tuhan, misalnya." Mikus menambahkan penjelasannya.

Mendengar penjelasan itu, rahang Lolus sontak terbuka selebar bahu.

"Mekas, kalau doa bisa dikomunikasikan melalui platform WhatsApp, kita bisa mengawali pembicaraan dengan-Nya pakai "P" ka?" Tanya Lolus.

Mendengar pertanyaan itu, Mikus bergumam dalam hati, "Kalau su begini siapa mo help!"



                        ☕🇲🇨☕


#AmedIbell

2 Comments: