Sabtu, 06 Juni 2020

MEDIS DAN PEJUANG KESEHATAN AVENGERS KITA: NARASI INTERTEKSTUALITAS

Sebuah narasi tidak berdiri sendiri. Sebagai sebuah teks, narasi selalu berkaitan dengan teks lain. Ini disebut intertekstualitas. Sebagai sebuah diskursus, semua teks pada dasarnya bersifat dialogis, begitu kata Michail Bachtin.

Kita tidak hidup dalam sebuah ruang hampa kebudayaan. Ketika melihat suatu peristiwa, kita tidak hanya berhadapan dengan peristiwa yang hadir di hadapan kita. Kita juga berhadapan dengan teks-teks lain. Teks tersebut bisa berupa peristiwa-peristiwa serupa di masa lampau, film, karya sastra, cerita rakyat, dan lain-lain.

Ketika menceritakan mengenai anak durhaka dan tidak berbakti kepada orang lain, kita mungkin akan mengutip "Malin Kundang". Ketika seorang gadis menceritakan tentang kisah cinta yang 'kandas' di belis dan tidak direstui orang tua, ia mungkin akan menarasikannya seperti "Siti Nurbaya". Begitu pula jika ada narasi tentang pemerintah yang licik, orang Manggarai tentu akan menggunakan tokoh dongeng "Pondik".

Umumnya bentuk-bentuk komunikasi intertekstualitas dibuat dengan strategi peniruan (mimikri). Suatu teks (peristiwa) mengambil teks (peristiwa) lain sebagai referensi intertekstualitasnya. Teks rujukan itu bisa berbentuk film, cerita rakyat, novel, puisi, dan sebagainya. Teks lain yang dipakai sebagai referensi intertekstualitas mempunyai implikasi makna tertentu, yaitu ke arah mana peristiwa komunikasi itu disajikan pada publik.

Covid-19 interteks
Covid-19 vs Avenger kesehatan
Relasi sebuah teks dengan teks lain akan membantu komunikator dan khalayak dalam mengenali peristiwa, sehingga peristiwa tersebut relevan dengan pengalaman publik. Itulah alasan mengapa intertekstualitas selalu muncul dalam praksis diskursus sosial kita. Ketika membicarakan kecepatan mengendarai sepeda motor para pegawai koperasi kredit harian, komunikator mungkin akan menggunakan Valentino Rossi atau nama pembalap Moto-GP beken lainnya sebagai referensi intertekstualitas.

Intertekstual sebenarnya adalah praktik yang sering kita hidupi sehari-hari. Ketika menggambarkan suatu peristiwa atau kondisi tertentu, kita kerap menggunakan cerita atau bahan referensi yang dikenal agar khalayak memahami maksud komunikasi. Demikian pula dengan konteks sosial komunikasi dalam situasi pandemi covid-19, saat ini.

Riak-riak komunikasi di tengah pandemi corona, tak luput dari praktik diskursus intertekstualitas. Salah satunya adalah, ihwal pertarungan para medis, perawat, dan pejuang kesehatan kemasyarakatan lainnya di garda depan melawan pandemi covid-19.

Dalam salah satu gambar yang ramai beredar di media sosial, pertarungan itu digambarkan dalam bentuk intertekstualitas antara wabah covid-19 yang menggunakan sarung tangan 'invinity gauntled' dengan seorang petugas medis yang digambarkan menggunakan sarung tangan 'invinity gauntled' versi para avenger, yang didesain Iron Man.

Dalam gambar tersebut, covid-19 diilustrasikan sedang menjentikan jari tangannya. Ini merupakan intertekstualitas aksi "Thanos Snap" dalam film "The Avenger: Invinity War". Fans garis keras film produksi Marvel Studios tentu tahu bagaimana dampak dari jentikan jari Thanos dalam balutan  'invinity gauntled'  itu. Tidak main-main, separuh dari populasi alam semesta sekejap menjadi debu dan menghilang. Hal ini tentu relevan dengan begitu banyak korban berjatuhan hampir di seluruh negara, akibat covid-19.

Sementara itu, di sudut bawah gambar tersebut ada sosok petugas medis yang diilustrasikan sedang menjentikan jari dengan 'invinity gauntled'. Ilustrasi tersebut merupakan bentuk intertekstualitas dari aksi Tony Stark (Iron Man) dalam film lanjutan dari Invinity Saga, "The Endgame". Dalam film tersebut, Thanos sebagai supervillain dapat dikalahkan. Thanos mati menjadi debu, akibat aksi "Iron Man Snap".

Berbeda dengan realitas di film, perang dunia terhadap covid-19 hingga kini masih berlanjut. Namun, intertekstualitas tersebut hendak melecut optimisme kita dan semangat para medis yang bertarung di garda depan. Merekalah avengers kita. Mereka sangat layak mendapat respek kita.



☕☕☕


(Ame'd Ibell)



2 Comments: