Jangan membuat orang tua sakit hati, sebab Anda dapat tertimpa masalah. Anda bisa dikutuk. Jadi batu, misalnya. Setidaknya, itu yang mau disampaikan melalui diskursus naratif dalam dongeng "Malin Kundang", maupun dongeng "Si Tanggang".
Jika sedikit mau berpikir kritis, mari kita mendekonstruksi supremasi orang tua dalam diskursus naratif pada dongeng-dongeng tersebut. Apa perlunya kita berpikir kritis, dan mendekonstruksinya? Sederhana saja, agar kita tidak menerima diskursus hegemoni mitologis dalam dongeng tersebut, sebagai sesuatu yang dogmatis. Ada hegemoni panoptik dalam dongeng-dongeng tersebut.
![]() |
| Malin Kundang |
Hegemoni selalu terakulasikan melalui pengetahuan, dan pengetahuan selalu punya efek kekuasaan, begitu kata Michael Foucault. Lebih lanjut, ia mengatakan setiap kekuasaan selalu berpretensi menghasilkan 'episteme' kebenaran tertentu, melalui wacana yang dikonstruksi. Tujuannya, tak lain untuk melanggengkan hegemoni. Dongeng adalah salah satu bentuk wacana tersebut.
Dongeng-dongeng tersebut mengambil kendali sistem pengetahuan dalam diri kita. Hegemoni senioritas yang ada dalam dongeng tersebut tidak bekerja represif dalam menutup celah alternatif berpikir kita. Cara berpikir kita dimapankan melalui normalisasi dan regulasi.
Normalisasi dan regulasi episteme itu membuat kita sulit menemukan wacana naratif (dongeng) yang mengisahkan orang tua yang dikutuk menjadi batu oleh anaknya. Hegemoni dalam dongeng tersebut 'memaksa' cara berpikir kita untuk patuh pada justifikasi pengetahuan, bahwa hanya orang tualah yang punya legitimasi mengutuk anak. Orang tua ”memalingkundangkan” anaknya adalah normal. Tidak normal jika anak ”membatukan” orang tua, meski orang tua durhaka pada anaknya. Kita 'dipaksa' tunduk di bawah episteme hegemoni diskursif seperti ini. Itu tidak dilakukan melalui aksi represif, melainkan secara normalisasi dan regulasi. Cara berpikir kita disetir agar menerima pengetahuan justifikatif dan tak berpikir dekonstruktif, tetapi nyaris tak terasa.
Salah satu fungsi mitos adalah memenangkan pertarungan wacana, melanggengkan dan kemudian menjadi alat kontrol diskursus sosial yang efektif, dalam kehidupan masyarakat di mana mitos itu hidup. Dongeng adalah salah satu media bagi mitos dalam mengontrol perspektif dan sikap setiap individu dalam skemata kognisi sosial. Dongeng "Malin Kundang", misalnya. Narasi itu adalah alat untuk melanggengkan superioritas orang tua, sebagai entitas yang harus 'dihormati', 'dipatuhi'. Jika tidak, jadi batu mekas!
Mari kita dekonstruksi diskursus itu dengan nalar yang berbeda. Bagaimana jika orang tua yang justru mengecewakan hati anaknya? Dahulu, mungkin sulit diterima jika ditemukan orang tua semacam ini. Namun, paradigma kehidupan dunia sudah berubah. Kerasnya kehidupan, menjadikan hal itu mungkin.
Dahulu, Malin Kundang dikutuk menjadi batu karena tak mengakui ibunya. Sekarang, tak jarang ditemukan orang tua yang menjadi "Malin Kundang" bagi anaknya. Tak sedikit ibu yang membuang atau mengaborsi anaknya menghiasi berbagai pemberitaan media, saat ini. Seharusnya, mereka juga dapat dikutuk menjadi batu oleh anak-anaknya! Namun, tampaknya tak ada diskursus seperti itu dalam konstelasi kebudayaan naratif kita.
Mitos dalam perspektif perang wacana, pada dasarnya bertujuan panoptik. Itu ditujukan untuk membuat kita tunduk pada supremasi orang tua. Mitos "Malin Kundang" terus menyoroti kita seperti lampu suar lapas. Itu membuat kita tidak mampu keluar dari untuk berpikir dekonstruktif, bahwa orang tua pun bisa menjadi "Malin Kundang" bagi anak-anaknya. Itulah panoptik.
☕☕☕
(Ame'd Ibell)








0 Comments:
Posting Komentar