Senin, 08 Juni 2020

AMANTES SUNT AMENTES

Sekali waktu, Lolus dan Mikus terjebak hujan dalam perjalanan pulang. Saat itu hujan turun dengan lebat-lebatnya.

Hujuan yang  terus mengguyur dengan derasnya, memaksa kedua sahabat itu menepi. Untung saja, di sisi jalan yang mereka lalui, ada sebuah  minimarket yang area parkirnya ditutupi canopi.

"Oew, mekas. Asi one minimarket hio cekoen ew. Kesep lena usang." (kita berhenti sejenak di ruko itu, sembari menunggu hujan redah) kata Mikus, sambil memukul pundak Lolus yang sedang mengendarai sepeda motor.

Kedua sahabat itu pun menepi dan berteduh di depan minimarket tersebut. Sementara itu, hujan yang turun tampak belum akan segera meredah.

Tak jauh dari tempat mereka berteduh, terdapat sebuah warung kopi. Warung kopi itu tampak ramai dikunjungi orang-orang yang terjebak hujan.

"Kus, manga warkop hio sina ew.  Asa, com lau hitu kat iling usang hoo?" (Kus, di sana ada warung kopi. Bagaimana kalau sementara kita berteduh di sana) kata Lolus pada Mikus, sambil menunjuk ke arah warung kopi tersebut.

"Ayo ga. Nehot naisn toong usang hoo ew, mekas" jawab Mikus. (Ayo, sepertinya hujan ini bakal lama redahnya).

                           ☕☕☕

"Bu, kopi hitam dua ya!" Lolus memesan kopi".

Tak lama berselang, kopi pesanan mereka pun tiba. Setelah seruput pertama, Mikus tetiba bertanya.

"Kita sering mendengar orang mengatakan, bahwa cinta itu gila. Apakah benar seperti itu?"

Pertanyaan itu seolah-olah mesin waktu yang membawa Lolus kembali ke masa SMA, ketika masih belajar bahasa Latin. Seketika itu juga, kognisi Lolus menampilkan memori tentang salah satu proverbia (ungkapan) Latin yang pernah dipelajarinya. "Amantes sunt amentes" (Orang yang sedang jatuh cinta tampak gila), begitu bunyinya. Ingatan itu membuat Lolus senyum sumringah.

Melihat reaksi Lolus, Mikus pun bertanya; 
"Ole, mekas co tara imus ite ge?" Manga ata lucun rei daku ko?" (mengapa kau senyum-senyum? Ada yang lucu dengan pertanyaanku).

"Begini kawan, setiap kali saya mendengar orang mengatakan, 'Cinta Memang Gila' kognisi saya langsung menampilkan sesuatu yang membuat saya tersenyum lucu."

Merasa belum terpuaskan rasa penasarannya, Tokuk, begitu Mikus biasa disapa berkata dalam dialek timur; "Kau kasi tau dulu ka teman, sa traktir lagi kau kopi hitam".

Pernyataan itu membuat Lolus tersenyum kembali. Rupanya Mikus memahami gaya pragmatisme komunikasi sahabatnya itu.

"Oke kalau kau memaksa. Kau pesan su kopinya" dengan cepat Lolus merespon tawaran Mikus. 

                                   ☕☕☕

"Amantes sunt amentes" Lolus mengawali 'joaknya'.

"Hae, apa lagi tu? Itu bukan maki saya to?" respon Mikus, mendengar ungkapan Latin itu.

"Saya tidak maki kau. Itu ungkapan Latin yang artinya: Orang yang sedang jatuh cinta tampak gila." jawab Lolus

"Makna ungkapan itu adalah, ketika jatuh cinta, bukan cinta yang gila, tetapi para pelaku atau orangnya yang tampak slep." Lanjut Lolus

"Hae, begitu lagi ka mekas?" tanya Mikus.

"Ia ew. Sebab, kalau cinta itu gila, maka jatuh cinta adalah jatuh sakit" jawab Lolus sambil menyerupu kopinya.


☕☕☕


(Ame'd Ibell)


4 Comments: