Rabu, 20 Mei 2020

CANDA CORONA


Tak ada yang betul-betul menyepelehkan covid-19.  Banyak negara yang memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hingga yang lebih radikal, lockdown dalam menekan laju perkembangan pandemik ini. Itu sudah cukup menunjukkan betapa ngeri entitas satu ini.

Namun, di tengah situasi darurat seperti itu, ada situasi yang 'paradoksal'. Tak jarang ditemukkan respon sosial masyarakat Manggarai yang cenderung santai, alih-alih menjadikannya bahan lawakan. Berbagai pelesetan dijumpai. Virus Corona disebut virus "dorona". Ada pula yang memelesetkan Covid-19 menjadi "Cowik-19", dan masih banyak bentuk pelesetan lain.

Tak ketinggalan, kebijakan pemerintah dalam melandaikan kurva persebaran virus tersebut, turut dipelesetkan. PSBB yang kita tahu sebagai bentuk singkat dari Pembatasan Sosial Berskala Besar, dipelesetkan menjadi "Perpanjangan Saep Berskala Besar". Demikian pula 'lockdown' yang dipelesetkan menjadi "loakdehaun".

Realitas tersebut seolah-olah menunjukkan, bahwa pandemik menakutkan tersebut tak cukup menyeramkan bagi sebagian masyarakat Manggarai. Covid-19, seperti kehilangan 'marwah' sebagai salah satu pandemik mematikan.

Respon sosial paradoksal itu pun mendapatkan banyak komentar. Tak sedikit pula yang membuli dengan komentar bertendensi satir, bahkan sarkastis. Bagi orang-orang ini, hanya mereka yang 'dikaruniai' kedunguan hakiki yang berani mengajak maut bercanda.

Mencermati fenomena sosial tersebut, Lolus dan Mikus tak latah ikut arus. Kedua sahabat itu tidak menggunakan perspektif kognisi sosial dominan dalam mendekonstruksi sosial teks, di balik merebaknya pandemik ini. Bagi keduanya, respon paradoksal, bukanlah ekspresi kedunguan sebagaimana yang diklaim sebagian orang. 

Lolusan Mikus, lebih melihat itu sebagai bentuk lain dari konkretisasi konsep kecerdasan. Tepatnya, kecerdasan emosional segelintir orang Manggarai. Tentunya, guyonan itu dalam konteks ketaatan terhadap  berbagai imbauan pemerintah.

Segelintir orang yang 'didungukan' ini seakan paham, kekhawatiran dan kepanikan hanya akan menurunkan sistem imun. Itu kondisi ideal bagi covid-19 melancarkan serangannya. Pesan sosiopragmatis yang ingin disampaikan orang-orang ini yakni, kecemasan adalah respon dungu dan kontraproduktif. Namun, mereka yang membuli, terlalu 'cerdas' untuk melihat makna laten dari sosial teks tersebut.

                      ☕☕☕

"Selain itu, ekspresi guyon itu juga menunjukkan, bahwa masyarakat kita sudah pernah melalui masa yang lebih sulit daripada wabah corona. Tidak heran, kita meresponnya dengan guyonan." Celetuk Mikus.

"Apa itu?" tanya Lolus penasaran.
"Politisasi penderitaan rakyat dan janji politik yang tak kunjung direalisasikan". jawab Mikus.

☕🇲🇨☕

(Ame'd Ibell)

2 Comments:

  1. Jangan terlalu tegang dg Covid-19 ew. Jangan sampai itu berbuah blunder terhadap kualitas imun kita. 😁😁😁

    BalasHapus