"My heart is in my throat, begitu yang aku rasakan saat pertama berkenalan dengannya", sontak temanku memecahkan stagnannya situasi obrolan di warung kopi yang terhenti oleh asyiknya kesibukan memainkan jari pada perangkat telepon seluler kami masing-masing.
Sore itu aku dan temanku sedang menikmati pahitnya kopi yang memaniskan situasi di tengah guyuran hujan yang saat itu sudah membuat kami menghabiskan dua gelas kopi.
"Coo ite ew teman? (Kenapa teman?)", aku mulai meresponnya sambil mengarahkan tatapan padanya. "Ada yang bisa dibanting? Eh, maksudnya ada yang bisa dibantu?"
Dengan semangat, dia pun memulai curhatnya dengan dialek Manggarainya yang begitu kental dan cenderung memfosil. "Begini ka teman, saya ka sepertinya sedang ada rasa dengan seseorang ow."
"Ole, pau nai kraeng ko?" (Kamu jatuh cinta?) tanyaku dalam bahasa daerah (Manggarai) merespon pernyataannya.
"Ya, itu sudah ka teman" dengan logatnya yang kental ia mengonfirmasi pertanyaanku.
"Tapi teman, saya bingung juga e. Saya bingung bukan tentang saya 'tembak' dia atau tidak", lanjut kawanku ini.
"Apa lagi yang kau bingungkan kalau bukan masalah tembak-menembak?", tanyaku penasaran.
"Begini teman, kenapa situasi psikologis seperti yang sedang saya alami sekarang ini kita di Indonesia sebut dengan Jatuh Cinta ew?"
"Kenapa tidak 'bangun cinta' saja? Itu sepertinya lebih tepat dengan situasi seperti ini. Mungkin kalau cinta itu bermasalah, istilah Jatuh Cinta jadi lebih tepat dipakai", begitu kawanku memberi penjelasan.
Mendapat pertanyaan tersebut, saya mencoba sedikit oportunis dan pragmatis.
"Hem, kalau kau mau dengar pendapatku, pesan lagi satu gelas kopi, bagaimana? Biar enak muncul idenya".
"Bu, kopinya satu lagi ya?" tanpa tedeng aling, ia kembali memesan segelas kopi. Tak lama berselang, kopi pun datang.
"Begini teman, situasi seperti itu merupakan sesuatu yang manusiawi dan universal. Karena itu, setiap masyarakat dunia pasti memiliki terminologi tertentu sebagai konkretisasi konsep situasi yang sedang kau rasakan itu. Secara konvensional, kita di Indonesia menyebutnya dengan Jatuh Cinta."
"Falling in love, begitu pengguna bahasa Inggris menyebutnya".
"Orang Jerman, negara asal Mesut Ozil menyebutnya dengan verlieben".
"Orang Spanyol, negara asal David de Gea menyebutnya dengan enamórate".
"Orang Prancis, negara asal Paul Pogba, menyebutnya amoureux".
"Orang Belanda, negara asal Robin van Persie, menyebutnya verliefd".
"Orang Portugal, negara asal CR-7 menyebutnya apaixonada".
"Dan kita orang Manggarai menyebunya dengan pau nai".
"Kalau ditelusuri, istilah yang digunakan berbagai bahasa bangsa di dunia dalam menggambarkan konsep situasi seperti itu merujuk pada pola gabungan kata [jatuh] dan [cinta]".
"Mengapa harus 'jatuh cinta' dan 'bukan bangun cinta', begitu konsep pertanyaanmu?" Kembali ku bertanya mengonfirmasi kepadanya.
"Komposisi kata [jatuh] dan [cinta] dalam mendeskripsikan konsep situasi 'baper' seperti yang kau alami, tentu bukanlah sesuatu yang acidental. Itu adalah suatu konsensus linguistik yang final."
"Kalau memang orang Inggris sekonsep denganmu, maka sudah tentu situasi itu akan dikonkretisasikan dengan frasa 'Building in love', dan bukan falling in love".
"Adoh, mati sudah, ini istilah-istilah ini buat saya wc keras saja". Ia menyela pembicaraanku.
"Jadi begini teman, mengapa kata [cinta] disandingkan dengan kata [jatuh] untuk menggambarkan situasi yang sedang buat kau baper itu?"
"Jatuh itu gerak hempas yang tak disengajakan dan direncanakan. Kita tidak pernah tahu kapan, di mana, dan bagaimana kita jatuh."
"Dalam konteks ini, kita tidak pernah tahu, kapan di mana, bagaimana, dan dengan siapa kita jatuh cinta".
"Lalu bagaimana dengan istilah membangun cinta?" Ia kembali menyela penjelasanku.
"Ketika orang sudah jatuh cinta, maka yang perlu dibangun adalah kepercayaan, tanggung jawab, dan kebahagiaan."
☕☕☕
Keasyikan beropini kopiku pun habis diembat sang empunya traktiran.
(Ame'd Ibell)








Super 😆😆😆
BalasHapus