Senin, 25 Mei 2020

'TATAPAN MEDUSA' DALAM PERMAINAN ANAK: SIAPA MAU HELP?

Manusia dan kebudayaan mengalami perubahan sesuai tahapan-tahapan tertentu, dari bentuk yang sederhana menuju bentuk yang lebih kompleks. Begitu kata Herbert Spencer dalam "Unlinear Theories of Evolution".

Pernyataan Herbert Spencer tersebut, dapat diamati pada eksistensi permainan tradisional. Dulu, permainan tradisional ini dijadikan permainan sehari-hari. Namun, kini tidak lagi. Anak-anak zaman ini lebih mengenal permain modern. Permainan Tradisional semakin hari semakin hilang dilindas dominasi perkembangan zaman.

Permainan tradisional
Permainan anak mo punah, sapa mo help?

Jean Piaget, bapak pembelajaran kognitivisme menyebutkan, bahwa permainan membentuk konsep keterampilan dan membentuk kognisi anak, serta mengembangkan kognisi tersebut. Relevan dengan itu, Mayke (2001:7-9) meyatakan, bahwa permainan tradisional dapat mengembangkan aspek motorik anak-anak, sehingga pertumbuhan fisik pun menjadi maksimal.

Permainan tradisional, sesungguhnya menyimpan keunikan, kesenian dan manfaat yang lebih besar, bila dikomparasikan secara head-tohead dengan permainan modern ala generasi 'android-console'. Manfaat tersebut seperti, kerja sama tim, olahraga, dan terkadang juga membantu meningkatkan daya otak (kognisi). Ketiga manfaat tersebut, adalah sebagai berikut.

Pertama, kerja sama tim (timework). Ini merupakan aspek sosial dari permainan tradisional. Generasi 'sontak' tentu tahu, bahwa semua jenis permainan ini tidak dapat dimainkan sendiri tanpa teman lain yang biasa menjadi anggota bermain. Karenanya, permainan ini, hampir tak memberikan celah bagi tumbuhnya individualisme.

Kedua, aspek manfaat sanitas. Disadari atau tidak, umumnya, permainan tradisional merupakan media olahraga fisik dan mental. Permainan ini cenderung dinamis dan sangat mengandalkan anggota gerak tubuh (berlari, jongkok, lompat, tiarap, menarik, mendorong, dll). Sportivitas sosial, dibentuk di sini. Kelompok yang kalah mengakui kekalahannya, dan kelompok pemenang tidak jumawa berlebihan demi menjaga iklim persahabatan merupakan wujud olahraga mental.

Ketiga, aspek edukatif dari manfaat permainan tradisional. Kemenangan kolektif adalah tujuan akhir dari permaian tradisional yang dimainkan. Kemenangan merupakan sebuah prestise dalam lingkungan sosial anak-anak tersebut. Untuk memenangkan permainan, kelompok bermain tertentu harus memiliki strategi bermain yang apik dan sistematis. Untuk itu, penyusunan strategi biasanya melibatkan seluruh anggota dalam kelompok bermain tersebut. Dengan begitu, kognisi dan mental demokrasi anak mulai terbentuk.

Berbeda dengan permainan 'kids jaman now' yang cenderung dilakukan dalam posisi duduk diam memainkan permainan dalam layar monitor dan sebagainya. Permainan yang cenderung statis membuat organ gerak anggota tubuh mereka cenderung tidak dimaksimalkan. Singkatnya, permainan ini membunuh 'sense of sport' anak-anak.

Suka atau tidak, permainan modern merupakan  lahan gambut bagi tumbuh kembangnya mentalitas individualis dan membentuk sikap apatisme dalam diri anak-anak yang bangga disebut 'kids zaman now'. Tidak ada pembelajaran sosial di sana, sebab ia berhadapan dengan mesin.

Tidak hanya itu, permainan modern juga merupakan 'tatapan medusa' bagi daya imajinasi anak-anak. Permaianan digital membuat imajinasi anak-anak seolah membatu.

Tidak demikian dengan permainan tradisional. Permainan ini memberikan ruang lebih bagi tumbuh kembangnya imajinasi dan fantasi anak. Beberapa permainan tradisional yang sering kami mainkan semasa kanak-kanak membantu kami berimajinasi dan berfantasi.

Bermain ban motor bekas, misalnya. Dengan permainan ini, anak-anak berimajinasi menjadi pembalap idolanya, sebut saja Valentino Rossi yang sedang berada dalam sirkuit dengan tekanan kompetisi. Kid Zaman Now tentu tidak akan dapat berimajinasi, sebab 'dibantu’ visualisasi game digital yang realistis dan konkret.

Ada juga permainan 'sontak'. Di daerah Manggarai lainnya, permainan ini disebut 'sunta'. Sontak adalah sejenis mainan senapan yang mengunakan buluh (bambu kecil) dan menggunakan kertas sebagai pelurunya. Seperti halnya senapan, sontak juga dapat mengeluarkan letupan suara tembakan. Dengan permaianan ini, kami berimajinasi menjadi sniper handal. Persis yang ada dalam game console Sniper Elite atau Ghost Warior.

Harus diakui, bahwa permainan tradisional mampu memberikan pengaruh yang positif bagi kesehatan fisik maupun mental. Karena itu, agaknya tidak berlebihan jika dikatakan, adagium Latin "Mensana In Corpore Sano" lebih relevan dengan permainan tradisional.

                          ☕☕☕

Ngeng.. ngeng.. Hongkiong... sontak son!!!

Salam kopi mok ringking


#Ame'dIbell

3 Comments: