Aristoteles adalah salah seorang filosof Yunani klasik, yang namanya hingga kini dikenal banyak orang. Bahkan orang yang tahu namanya, lebih banyak dari teman pria di FB nona-nona cantik. Kalau status Facebook seorang cewek 'di-like' oleh 1000 orang dari 999 teman, maka orang yang mengenal nama Aristoteles, bahkan lebih dari itu.
Ah, mungkin itu perbandingan yang kurang aple to aple. Tapi, sudahlah! Ini efek kopi saya yang sudah mulai habis.
![]() |
| 'Nyeleneh' kritis |
Semasa hidupnya, sang filosof kondang pernah mempertanyakan, mengapa bentuk telur itu bulat oval dengan ujung yang elips. Pertanyaan tersebut terus mengusik rasa 'kekepoannya'. Namun sayang, hingga beliau tutup usia, pertanyaan tersebut masih belum terjawab.
Om Tote (Aristoteles), sebut saja begitu pernah mengungkapkan asumsinya ihwal bentuk telur. Jika anak burung berkelamin betina, maka ujung telur akan lebih tajam. Namun, asumsi Om Tote itu tak pernah menyelesaikan pertanyaan mengapa telur berbentuk seperti itu.
Penjelasan tradisional pun punya pemerian ihwal pertanyaan Om Tote itu. Penjelasan tradisional menyatakan, bahwa bentuk telur yang panjang dan oval berfungsi agar telur tidak terguling terlalu jauh dari sarangnya, atau memudahkan mencengkeram saat keluar dari kloaka burung.
Pertanyaan Om Tote itu, hingga kini masih dikaji secara ilmiah. Teranyar, penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari tujuh universitas internasional, termasuk Princeton University, Nanyang Technology University, dan University of Haifa.
Pertanyaan sederhana yang cukup menggelitik bagi Aristoteles dan juga para ilmuwan ini, akhirnya terjawab dalam penelitian itu. Dalam studi yang dipublikasikan melalui jurnal "Science", tim peneliti internasional mengungkapkan alasan mengapa telur berbentuk oval dan meruncing. Itu diungkapkan setelah menganalisisa puluhan ribu bentuk telur yang mewakilli beragam burung. Mereka menggunakan database dari 49.175 foto telur yang mencakup 1400 spesies burung hidup dan yang sudah punah.
Berbeda dengan hipotesis klasik, kajian tersebut menemukan bahwa kemampuan terbang bisa mempengaruhi bentuk telur burung. Burung yang punya kemampuan terbang baik, cenderung punya bentuk telur asimetris atau lebih elips.
Pertanyaan Om Tote tersebut di atas, tampak sangat sederhana. Sesederhana para pria menyentuh tombol like di setiap status facebook para wanita cantik. Pertanyaan sederhana yang dilontarkan Aristoteles tersebut, membuat orang melabelinya sebagai 'orang yang kurang kerjaan'.
Pertanyaan itu memang sederhana, datang dari fakta keseharian yang sederhana. Namun, pertanyaan itu tidak dapat dilontarkan kepada orang yang 'sederhana'.
Apa sebenarnya yang dapat dipelajari dari pertanyan sederhana Arisoteles itu? Semua ilmu pengetahuan dan teknologi manusia saat ini merupakan manifestasi proses evolusi dari pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu.
Om Tote dengan pertanyaan 'nyeleneh' itu, telah menggerakan semangat saintifik dan menyalakan pikiran kritis. Jawaban atas pertanyaan itu menuntut elaborasi saintifik dan berbagai studi pustaka terkait.
Aristoteles sempat dianggap gila, karena melontarkan pertanyaan bentuk telur tersebut. Namun, jika mau jujur pertanyaan itu merupakan semiotika kritik tajam yang relevan dengan konteks dunia pendidikan, terutama bagi para guru di era kita, hari ini. Tak sedikit guru-guru kita hari ini, yang masih membuat soal ujian dengan redaksi yang membutuhkan jawaban yang cenderung leterlek. Misalnya, "alat pernafasan ikan adalah?".
Aristoteles dan pertanyaan 'gila' ihwal bentu telur, hendak menyentil guru-guru kita, agar hijrah dari level hafalan menuju pertanyaan yang merangsang nalar kritis anak. Dengan begitu, diharapkan akan muncul pertanyaan 'nyeleneh' tapi kritis, misalnya "mengapa ikan tidak bisa panjat pohon seperti monyet". Pertanyaan ini tentu akan menggembleng anak-anak pada semangat literasi. Anak-anak akan membedah referensi ihwal teori-teori evolusi melalui telaah pustaka untuk menjawabnya.
Hal lain yang dapat kita pelajari dari pertanyaan 'nyeleneh' ala Om Tote itu adalah jangan menyepelehkan hal-hal sederhana di sekitar kita. Seperti telur Anda, misalnya. Eits, jangan secara sederhana berpikir 'ngeres'!
Orang hebat seperti Aristoteles, melihat segala sesuatu yang sederhana, dengan cara berpikir yang luar biasa. Sementara orang biasa, melihat segala sesuatu dengan cara berpikir yang 'sederhana'.
Orang hebat, dapat membuat hal sepele menjadi luar biasa. Sedangkan orang 'sederhana', membuat sesuatu yang luar biasa menjadi hal sepele. Itu yang mungkin dapat kita pelajari dari rasa 'Kepo' luar biasa Om Tote (Aristoteles) tentang bentuk telur, yang tak jelas itu punya siapa.
Anda bisa menambahkan makna lain yang dapat dipelajari dari pertanyaan 'konyol' Om Tote itu. Namun, satu hal penting yang perlu diingat, jangan tanyakan itu pada "telur yang defisit nalar". Sebab, dengan mudah dan cepat ia akan berpikir Anda gila.
☕☕☕
(Ame'd Ibell)








Asyk..
BalasHapusLucu...
mengesankan juga membingungkan......
Ruha punya buat ew Om Ngingok...
BalasHapushahahah....posting lagi ka om?
BalasHapusRuha...ruha 😆
BalasHapusRuha...😁😁😁
BalasHapus